Di kota yang berjarak ribuan kilometer dari teluk itu, pada malam yang sama, Lela berdiri di balik jendela apartemennya.
Jakarta masih menyala.
Kendaraan mengalir tanpa putus.
Gedung-gedung memantulkan cahaya seperti lautan yang kehilangan ombak.
Ia membuka jendela.
Mencoba mendengarkan sesuatu.
Yang datang hanya dengung pendingin udara dan sirene yang bersahut-sahutan.
Tanpa sadar ia berbisik,
“Apa laut masih mengingat namaku?”
Lela menjadi perempuan yang nyaris tak pernah gagal.
Di kantor, ia dikenal tekun, cermat, dan selalu datang sebelum jam kerja dimulai. Dalam beberapa tahun, kariernya melesat. Ia dipercaya memimpin berbagai program pemberdayaan masyarakat pesisir, menyusun kebijakan, dan berbicara dalam seminar-seminar tentang masa depan laut Indonesia.
Ironisnya, hampir setiap hari ia berbicara mengenai laut kepada orang-orang yang tidak pernah hidup bersama laut.
Ia menjelaskan abrasi melalui grafik.
Menjelaskan kemiskinan nelayan melalui angka.
Menjelaskan perubahan iklim melalui peta-peta satelit.
Semua orang mengangguk.
Semua laporan selesai tepat waktu.
Tetapi setiap kali presentasi usai dan layar proyektor dipadamkan, selalu ada ruang kosong yang tak mampu dijelaskan oleh data.
Laut yang dikenalnya tidak pernah hanya terdiri atas koordinat dan statistik.









