Ukirannya sederhana.
Namun motifnya segera dikenali Lela.
“Itu milik nenekku.”
Samad mengangguk.
“Ibumu menyimpannya selama bertahun-tahun.”
Di bawah anting itu terselip selembar kain tenun Galela yang telah mulai pudar dimakan usia.
Tak ada surat.
Tak ada pesan.
Hanya benda-benda yang diam-diam membawa pulang sejarah sebuah keluarga.
“Aku tidak mengerti,” bisik Lela.
Samad menatap laut yang mulai gelap.
“Waktu kecil kau pernah bilang takut lupa jalan pulang.”
Lela tersenyum lirih.
“Aku masih ingat.”
“Aku juga.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku pernah berpikir, kalau benar mencintaimu, aku harus memintamu tetap tinggal.”
Samad menggeleng pelan.
“Ternyata aku salah.”
Lela memandangnya.
“Cinta bukan menahan seseorang.”
“Lalu?”
“Cinta adalah memastikan ia masih mempunyai rumah ketika ingin kembali.”
Tak ada kata-kata lagi.
Angin laut menyelesaikan sisanya.
Malam semakin larut.
Bintang-bintang memenuhi langit Galela.
Tak ada gedung yang menghalangi pandangan.
Tak ada cahaya kota yang menenggelamkan langit.
Hanya semesta yang terbuka luas di atas kepala mereka.
“Aku mendapat tawaran memperpanjang penelitian enam bulan,” kata Lela.
“Itu kabar baik.”
“Ada juga tawaran kembali ke Jakarta.”
Samad mengangguk.
“Kau akan memilih yang mana?”









