Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -172 views

Lela belum juga naik ke mobil.

Ia berdiri di beranda rumah, memandang halaman yang dipenuhi bayang-bayang pohon pala. Di sudut pekarangan, bunga dagasuli yang baru ditanam mulai mengeluarkan kuntum-kuntum putih.

Ibunya menghampiri.

“Sudah siap?”

Lela mengangguk pelan.

Perempuan tua itu menggenggam tangan putrinya.

“Dulu Ibu selalu takut kau tidak akan kembali.”

Lela menatap wajah ibunya yang telah dipenuhi garis-garis usia.

“Aku juga pernah takut, Bu.”

“Takut apa?”

“Takut kalau suatu hari nanti aku tidak lagi mengenali rumah ini.”

Ibunya tersenyum.

“Rumah tidak pernah meminta dikenali.”

“Lalu?”

“Rumahlah yang mengenali anak-anaknya.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun Lela merasa seperti sedang mendengar kembali suara ayahnya, suara Kakek Mahmud, juga suara para tetua kampung yang sejak kecil mengajarinya memandang laut sebagai bagian dari hidup.

Baca Juga  Bahlil Minta MKGR Siapkan Kader Hadapi Pemilu 2029, Tegaskan Golkar Wajib Kawal Pemerintahan Prabowo

Sebelum mobil berangkat, ia meminta izin berjalan sebentar ke pantai.

Jaraknya hanya beberapa puluh langkah dari rumah.

Pagi masih sangat muda.

Air laut tenang.

Perahu-perahu nelayan telah lebih dahulu meninggalkan teluk, tinggal riak kecil yang bergerak perlahan di permukaannya.

Samad sudah berada di sana.

Seperti biasa.

Ia sedang merapikan jaring.

Seolah-olah memang begitulah setiap pagi dalam hidupnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.