Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -182 views

Perahu-perahu dihias janur muda.

Anak-anak mengenakan pakaian adat.

Para perempuan membawa hasil bumi: pisang, kelapa, ubi, ikan bakar, sagu, cengkih, dan pala.

Menjelang senja, seluruh warga berkumpul di pantai.

Lela berdiri di antara mereka.

Bukan sebagai peneliti.

Bukan sebagai tamu.

Melainkan sebagai anak kampung yang sedang belajar pulang.

Seorang tetua melangkah ke depan.

Dengan suara pelan ia menyampaikan petuah tentang laut yang memberi kehidupan, tetapi tak pernah boleh diperlakukan dengan keserakahan.

Setelah itu doa dipanjatkan.

Tak ada pengeras suara.

Tak ada panggung.

Hanya suara manusia yang bercampur desir angin.

Lela memejamkan mata.

Suara doa itu membawa begitu banyak kenangan.

Ia teringat ayahnya.

Baca Juga  BYD Seagull Terbaru Muncul di Dokumen MIIT, Dimensi Membesar dan Tenaga Naik Jadi 127 HP

Ibunya.

Kakek Mahmud.

Juga masa kecil yang selama bertahun-tahun disimpannya di sudut ingatan paling sunyi.

Ketika membuka mata kembali, ia mendapati pipinya telah basah.

Usai doa, warga makan bersama di atas daun-daun pisang yang dibentangkan di pasir.

Anak-anak berlarian membawa obor.

Perahu-perahu bergoyang pelan di permukaan teluk.

Samad menghampirinya sambil membawa sebuah kotak kayu kecil.

“Ada sesuatu untukmu.”

Lela menerimanya dengan heran.

Ia membuka tutup kotak itu perlahan.

Di dalamnya terletak sepasang anting perak tua.

No More Posts Available.

No more pages to load.