Perempuan yang Dipinjam Laut

oleh -164 views

“Kamu beruntung.”

Lela hanya tersenyum.

Ia tidak mengatakan bahwa yang disebut keberuntungan itu telah ditunggunya bertahun-tahun.

Kabar kepulangannya lebih dulu tiba di kampung.

Bukan melalui telepon.

Melainkan dari Hasan, sopir mobil travel yang hampir setiap minggu mengantar penumpang dari Sofifi ke Galela.

“Lela pulang bulan depan,” katanya kepada Samad sambil menyeruput kopi di warung pelabuhan.

“Katanya ada penelitian.”

Samad hanya mengangguk.

Ia tidak bertanya kapan.

Tidak bertanya berapa lama.

Sesudah Hasan pergi, ia masih duduk memandangi teluk yang mulai surut.

Seekor camar melintas rendah di atas permukaan air.

Di kejauhan, beberapa perahu sedang kembali sebelum angin sore berubah lebih keras.

Baca Juga  Dua Kelompok Mahasiswa Malut Laporkan Dugaan Penyimpangan Proyek Jembatan Ake Busale ke KPK

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Samad merasa waktu berjalan sedikit lebih lambat.

Hari-hari berikutnya tetap berlangsung seperti biasa.

Ia melaut sebelum azan Subuh.

Menarik jaring.

Memperbaiki mesin perahu.

Mengantar ikan ke pasar.

Namun tanpa ia sadari, tangannya mulai sibuk mengerjakan hal-hal yang tidak pernah masuk ke dalam rutinitas.

Atap rumah yang bocor diperbaiki.

Bangku bambu di beranda diganti.

Halaman disapu setiap pagi.

Ia bahkan menanam kembali bunga dagasuli di sudut pekarangan.

Bunga putih kecil itu dahulu menjadi kesukaan Lela.

No More Posts Available.

No more pages to load.