Petualangan Putin dan Pemujanya

oleh -356 views

Sejarah peradaban manusia adalah sejarah peperangan. “war is a sign of animal’s aggression within human instincts.” Prinsip perang adalah “might make right”, produk evolusi alam era binatang. Perang dan kekuasaan zalim adalah insting kebinatangan yg masih bersemayam dalam diri manusia. Manusia pasca-modern yang sudah berevolusi level kultural (alih-alih natural) tidak semestinya berprinsip “yang kuat harus menang”. Perang tidak bisa dibenarkan, atas nama dalih apapun. Siapapun pihak pemicunya, Rusia, Amerika, China, atau Indonesia, perlu dikecam dan dipersoalkan.

Kegemaran manusia berperang sudah mulai surut sebenarnya. Momentumnya adalah Perang Dunia II, sebagai “the war to end all wars”. Kegemaran perang surut dengan semakin majunya sains dan teknologi. Ketika manusia semakin enlightened, tercerahkan pemikirannya. Indikasi semakin berkurangnya perang dan kekerasan dipaparkan dengan baik dalam dua buku karya Steven Pinker, “The Better Angels of Our Nature: Why Violence Has Declined.” Juga “Enlightenment Now: The Case for Reason, Science, and Humanism.”

Baca Juga  Paus Leo XIV Tegaskan Perang AS dan Israel terhadap Iran Bukan “Perang yang Adil”

Tapi maraknya pemujaan pada petualangan Putin sangat menyedihkan. Segala analisis pretensius-akademis tidak ada manfaatnya, jika hanya menjadi dalih pembenaran untuk menyetujui agresi dan kekerasan. Agresi Rusia sama buruknya dengan agresi Amerika. Bom, rudal, dan tembakan senjata, siapapun pemicu awalnya, sama kejinya, tak soal atas nama ideologi, agama, atau bangsa.

No More Posts Available.

No more pages to load.