“Politainment” dan Wajah Pilkada 2024

oleh -546 views

Spanduk hingga flyer-flyer yang memajang foto narsis kandidat disandingkan dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Joko Widodo, presiden yang sebentar lagi bakal mengakhiri jabatannya.

Pesannya sederhana, dengan menampilkan visual orang nomor satu dalam tiap alat peraga kampanye, elektabilitas dan popularitas para calon diharapkan naik. Atau paling tidak, mereka dianggap satu “frekuensi” dengan Pemerintahan hari ini dan yang akan datang.

Bak seorang pesohor, para kandidat menebar senyum di mana-mana. Tampil di ruang-ruang media sosial dan ragam podcast.

Tak sedikit di ruang media, para kandidat sesumbar mengkapitalisasi heroisme masa lalu, latarbelakang keluarga yang susah hingga drama-drama sensasional yang memantik emosi publik.

Dalam hajatan masyarakat seperti nikahan hingga acara duka, mereka diagendakan hadir oleh tim sukses masing-masing. Kuncinya, mereka bisa masuk frame media dan memproduksi narasi pemberitaan melalui konten-konten hiburan.

Baca Juga  Gunung Dukono Kembali Erupsi, Kolom Abu Capai 3,4 Kilometer

Fenomena ini secara jamak dikenal sebagai politainment, strategi komunikasi politik kontemporer yang menggabungkan unsur politik dengan entertainment (hiburan). Atau secara sederhana dimaknai sebagai politik hiburan.

Para kandidat mengemas diri sebagai tokoh yang popular bak selebritis. Semua gerak-gerik dan polah mereka menjadi sorotan dan wajib dipublikasi di kanal-kanal media. Tentu dengan harapan dikenal dan terkenal.

No More Posts Available.

No more pages to load.