“Politainment” dan Wajah Pilkada 2024

oleh -549 views

Pop-politik di ruang digital sesungguhnya diharapkan mendongkrak popularitas dengan jalur viralitas, hiburan, dan humor yang sangat menyederhanakan isu-isu politik lokal.

Sementara diskursus gagasan maupun program politik seolah menjadi syarat administratif dan tempelan bagi para kandidat saat Pilkada.

Hal ini bisa dijumpai dalam ruang maupun forum-forum kampanye yang dibangun oleh para kandidat maupun tim sukses. Minim sekali kandidat yang bernyali mengekplorasi dialog untuk diuji langsung oleh publik.

Bahkan para kandidat enggan untuk berdialog dan bertemu tatap muka saat difasilitasi kelompok masyarakat sipil.

Dialog-dialog untuk mendidik nalar masyarakat saat kontestasi politik memang jarang dijumpai meskipun di kota-kota besar di Indonesia sudah mulai digalakkan oleh para penggiat dan aktivis demokrasi. Namun, jumlahnya masih terbatas.

Baca Juga  Tragedi Gunung Dukono, Saat Peringatan Diabaikan demi Konten

Sebagai calon penyelengara negara di daerahnya, para kandidat seharusnya menguraikan dan memberikan informasi utuh mengenai program yang relevan dengan kondisi dan masalah daerah.

Rasa ingin tahu publik mengenai produk politik, baik dalam bentuk gagasan dan ide-ide politik selama ini hanya disampaikan secara seremonial dan diposisikan sebagai layer kedua dalam komunikasi politik. Gimik dan sensasional menjadi prioritas kampanye.

No More Posts Available.

No more pages to load.