Namun, ketika ditanya tentang program spesifik yang akan dilakukan ke depan untuk perbaikan dan antisipasi bencana, seringkali jawabannya tidak memadai atau bahkan tidak ada.
Hal ini menunjukkan bahwa kunjungan tersebut hanya bagian dari pencitraan, alih-alih mencari pemahaman terhadap akar pesoalan dan penyelesaian masalah.
Tindakan, laku lampah politik, dan strategi seperti ini merupakan gambaran struktur sosial yang ada, di mana citra dan simbol lebih diutamakan daripada substansi.
Para calon kepada daerah ini membangun apa yang disebut Piere Bourdieu sebagai “modal simbolik” untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat.
Selain citra, uang juga memainkan peran besar dalam budaya politik gimik. Dana kampanye yang besar sering digunakan untuk mengadakan acara-acara meriah yang lebih mirip pesta daripada kampanye politik.
Masyarakat disuguhkan hiburan, makanan gratis, dan pelbagai hadiah yang membuat diskusi tentang visi dan misi calon yang bersangkutan menjadi terlupakan.
Tidak hanya itu, uang juga digunakan untuk membiayai iklan-iklan yang menampilkan pencapaian fiktif atau memoles rekam jejak calon agar terlihat lebih baik dari kenyataannya.
Penggunaan media sosial dan influencer untuk mendongkrak popularitas juga semakin marak, membuat masyarakat terbuai oleh citra yang ditampilkan lalu kehilangan daya kritis untuk melihat program yang ditawarkan.









