Akademisi disibukkan dengan analisis data dan model-model teoretis yang kompleks, namun lupa bahwa politik adalah tentang manusia dan kehidupan nyata.
Para akademisi terjebak dalam rangkaian yang disebut oleh Herbert Marcuse sebagai manusia satu dimensi (one dimensional man).
Manusia satu dimensi dalam paparan Marcuse merupakan gambaran individu yang terkooptasi oleh sistem kapitalisme dan teknologi, sehingga kehilangan kemampuan kritis dan kesadaran sosialnya.
Dari perspektif ini, seakan-akan para akademisi tertawan oleh sistem yang diproduksi oleh lingkungan kerjanya. Kemampuan teknis dan profesionalitasnya terperangkap dalam sistem politik negara yang mengekang kemampuan kritis.
Kerja-kerjanya hanya dalam batasan-batasan yang ditetapkan oleh sistem, mendukung dan memelihara status quo, alih-alih menggunakan keahlian dan keilmuannya untuk mengkritisi dan mengubah sistem. Bahkan yang lebih tragis ada yang berperan sebagai “pembisik teknis” bagi politisi.
Budaya politik gimik yang miskin substansi merupakan masalah serius yang harus segera diatasi. Para politisi harus mulai menyadari bahwa citra manipulatif tidak akan membawa perubahan yang berarti bagi masyarakat.
Politik harus dikembalikan ke esensinya sebagai alat pengabdian dan membawa kemajuan bagi daerah yang dipimpin.









