Sama. Gemoy juga seperti itu bukan? Apa? Tidak bermoral? Gaes, ini bukan masalah moral. Ini adalah masalah, seperti kata Hasan Nasbi, menang dan kalah. Kowe nggak populer pas masa kampanye, kowe out. Kalah! Tapi tentu penentu kemenangan pemilu itu bukan hanya popularitas. Kita tahu, logistik juga penting. Kalau tidak yang paling penting. Tapi popularitas plus logistik akan memberikan Anda 58%, seperti approval rating pemerintahan sekarang. Iya kan?
Popularitas itu penting tidak hanya untuk kampanye. Juga saat Anda memerintah. Kalau Anda bisa membanjiri konsumen Anda dengan citra-citra bagus tentang diri Anda — tegas, berani, melawan arus, berpihak pada rakyat, dll. serta mengemasnya menjadi sebuah tayangan yang menghibur (entertaining) maka jadilah Anda politisi yang populer.
Dan, yang terpenting, Anda boleh tidak mengerjakan pekerjaan utama Anda. Atau mengubah pekerjaan utama Anda menjadi pembuat konten.
Hampir semua pejabat di Republik Brouhaha ini melakukan hal tersebut. Yang paling berhasil adalah gubernur Jawa Barat, KDM. Dia fenomenal. Dia mengurusi apa saja, kecuali pemerintahannya. Ketika ada siswa yang nakal, dia kirim ke barak militer. Padahal itu pekerjaan dia, kan? Barak militer memperkuat citra ketegasan dan kekuatannya. Ada tetangga bersengketa di Malang, dia ke sana. Terjun mengurusi yang bukan urusannya.










