Postscriptum Branding Ternate: Ketika Kota Rempah Harus Berbuah

oleh -134 views

Ia adalah upaya membangun kepercayaan, reputasi, persepsi, dan respons publik terhadap sebuah kota. Pada titik itulah branding menjadi penting: bukan karena kota memiliki slogan yang indah, melainkan karena warga dan dunia luar dapat melihat bukti bahwa slogan itu bekerja.

Maka, city branding semestinya berangkat dari program prioritas yang jelas. Setiap perencanaan selalu mengandung pilihan: apa yang hendak dicapai, bagaimana cara mencapainya, dan dengan ukuran apa keberhasilannya dinilai.

Begitu pula dengan pilihan membangun daya saing Ternate melalui rempah.

Viktor Frankl pernah mengingatkan, ketika manusia tidak lagi mampu mengubah suatu keadaan, ia ditantang untuk mengubah dirinya sendiri. Dalam konteks Ternate, rempah adalah memori kolektif yang menyediakan bahan baku untuk perubahan itu. Ia merupakan identitas dan sejarah yang dapat direkonstruksi menjadi masa depan.

Namun masa depan tidak dibangun dengan nostalgia.

Baca Juga  Kejari Malra Limpahkan Dua Tersangka Pembunuhan Nus Kei, Segera Disidangkan di PN Ambon

Ia dibangun dengan keberanian menerjemahkan sejarah ke dalam tindakan.

Karena itu, pertanyaan turunannya bukan lagi apakah Kota Rempah telah mengubah persepsi warga Ternate. Pertanyaan yang lebih substantif adalah: apakah branding tersebut telah meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ekonomi lokal, membuka pasar baru, dan mengubah orientasi pemanfaatan sumber daya alam menjadi lebih berkelanjutan?

No More Posts Available.

No more pages to load.