Prabowo, Bahasa Perancis, dan (Lagi) Politik Deklaratif

oleh -55 views

Dan ada satu hal yang sering dilupakan para pemegang kekuasaan: ucapan seorang presiden bukan sekadar kalimat spontan yang hilang bersama tepuk tangan seremoni. Setiap pernyataan kepala negara membawa bobot institusional, karena di belakangnya melekat nama negara dan perhatian publik internasional. Janji seorang presiden pada dasarnya adalah janji negara—yang menuntut kesungguhan, arah kebijakan, dan kesiapan pelaksanaan.

Karena itu, ketika sebuah gagasan diumumkan berulang kali tanpa kejelasan realisasi, publik perlahan melihatnya bukan lagi sebagai visi, melainkan sekadar retorika diplomatik. Sejarah pun kerap mencatat janji-janji semacam itu sebagai “menggantung asap”: terdengar tinggi saat diucapkan, tetapi sukar menemukan bentuknya dalam kenyataan.

Bila pola ini diteruskan, publik mungkin tinggal menunggu bahasa apa yang akan diumumkan setelah lawatan kenegaraan berikutnya. Kurikulum nasional perlahan tampak seperti koper diplomatik: setiap pulang dari kunjungan luar negeri, ada kemungkinan isi baru dimasukkan ke dalamnya.

Baca Juga  Bosnia-Herzegovina Lolos ke Piala Dunia 2026, Singkirkan Italia Lewat Drama Play-off

Tentu tak ada yang salah dengan mempererat hubungan budaya dengan negara lain. Perancis memiliki tradisi intelektual besar, sebagaimana Brasil memiliki sejarah dan kebudayaan yang kaya. Namun hubungan antarnegara tidak semestinya diterjemahkan secara spontan menjadi kebijakan pendidikan nasional. Diplomasi memerlukan keramahan, tetapi pendidikan memerlukan ketenangan berpikir.

No More Posts Available.

No more pages to load.