Prabowo No Mic: Ketika Presiden Kalah oleh Mikrofon

oleh -6 Dilihat

Satu kalimat presiden dapat hidup jauh lebih lama daripada pidatonya.

Prabowo tampaknya menyadari persoalan itu. Ia pernah mengaku bosan dan mengantuk bila harus membaca naskah pidato. Karena itu, ia kerap memilih berbicara di luar teks yang telah disiapkan.

Pada satu sisi, pilihan tersebut bisa dipahami sebagai upaya menghadirkan autentisitas. Presiden ingin tampil sebagai dirinya sendiri, tidak kaku, tidak sepenuhnya bergantung pada teleprompter. Spontanitas bahkan dapat membuat seorang pemimpin terasa lebih dekat dengan rakyat.

Tetapi di situlah paradoksnya: autentisitas tanpa disiplin dapat berubah menjadi impulsivitas.

Dalam teori komunikasi, kredibilitas komunikator bertumpu antara lain pada kompetensi, karakter dan kepercayaan. Kesalahan sekali mungkin hanya menjadi keseleo lidah. Tetapi ketika kekeliruan serupa berulang, publik dapat mulai mempertanyakan bukan hanya kalimat yang salah, melainkan kredibilitas orang yang mengucapkannya.

Baca Juga  Polres Kepulauan Sula Fasilitasi Pertemuan Kawata-Kaporo, Proses Hukum Kematian Riswan Umasugi Dikawal

Apalagi yang berbicara adalah presiden.

Persoalannya bukan apakah Prabowo boleh bercanda atau salah. Tentu boleh. Presiden tetap manusia. Persoalannya adalah bahwa bobot sebuah kesalahan berubah ketika keluar dari mulut seorang kepala negara.

Media sosial memperbesar persoalan itu. Algoritma tidak mengenal keseluruhan pidato; ia menyukai potongan. Publik mungkin lupa sepuluh halaman pidato, tetapi mengingat satu kalimat yang dianggap lucu. Dari sanalah citra terbentuk.

No More Posts Available.

No more pages to load.