Prabowo No Mic: Ketika Presiden Kalah oleh Mikrofon

oleh -58 Dilihat

Dan citra, dalam politik, adalah mata uang yang mahal.

Di sinilah kritik Pandji Pragiwaksono terhadap gaya komunikasi Prabowo patut ditempatkan. Ketika seorang komika menyebut Prabowo arogan, kritik itu memang dapat diperdebatkan. Tetapi komedi politik sejak lama memiliki fungsi penting: menjadi cermin yang memantulkan wajah kekuasaan dari sudut yang tidak nyaman.

Komika mungkin tidak memiliki podium kenegaraan. Tetapi ia memiliki mikrofon yang kadang mampu mengatakan apa yang tidak nyaman dikatakan oleh banyak orang.

Maka ketika belakangan muncul meme “Prabowo No Mic”, kita seharusnya tidak berhenti pada kelucuannya.

Di balik satire itu terdapat sebuah pesan publik yang lebih dalam: bukan agar presiden diam, melainkan agar presiden lebih berhati-hati ketika berbicara.

Baca Juga  Polres Kepulauan Sula Fasilitasi Pertemuan Kawata-Kaporo, Proses Hukum Kematian Riswan Umasugi Dikawal

Dalam psikologi kepemimpinan, kemampuan mengendalikan impuls merupakan bagian dari kematangan seorang pemimpin. Kekuasaan memberikan ruang yang luas untuk berbicara, tetapi kebijaksanaan justru terlihat dari kemampuan mengetahui kapan harus berhenti.

Pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak bicara. Ia harus menjadi orang yang paling sadar bahwa kata-katanya memiliki akibat.

Karena itu, mungkin Prabowo tidak perlu kehilangan spontanitasnya. Yang diperlukan adalah disiplin spontanitas: tahu kapan keluar dari naskah dan tahu kapan kembali kepadanya.

No More Posts Available.

No more pages to load.