Jokowi meski awalnya sukses sebagai merek, tapi terbukti gagal sebagai produk. Orang lupa pada Nawacita, janji marketingnya, dan yang akan teringat adalah Nawadosa, perilakunya. Sejarah mencatat dosa-dosanya. Jokowi yang punya intuisi bisnis dalam memasarkan merek, gagal menghasilkan produk sesuai ekspektasi. Tipikal penjual merek abal-abal yang kini marak di era bisnis online ala media sosial — bisnis pencitraan dan tipu-tipu.
Jokowi, merek yang pernah begitu populer, kini mulai ditinggalkan dan kesepian. Orang mulai merasa malu dan ngeri pernah terasosiasi dengan merek ini. Ia ingin menyepi di IKN, istana pasir delusinya, yang akan tersapu ombak mangkrak. Sebagai produk gagal, Ia cuma bisa menghitung hari, untuk diadili. (*)









