Puasa dan Tafakur

oleh -699 views

Oleh: A. Malik Ibrahim, Penulis

“Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu.” (QS. An-Nahl: 66)

Pernahkah kita membaca berita atau menyaksikan seekor burung yang tiba-tiba menukik, membenturkan kepalanya ke batu cadas, atau dengan sengaja meluncur ke laut untuk mengakhiri hidupnya? Tentu tidak. Tak pernah ada kisah burung yang bunuh diri karena kesulitan hidup.

Burung seolah memahami hakikat kehidupan: ada saat berada di atas, ada waktu terhempas ke bawah; ada masa kenyang, ada pula masa kelaparan. Namun ia tetap hidup, tetap terbang, dan tetap menjalani siklus kehidupannya dengan penuh kepasrahan.

Begitu pula makhluk yang tampak lemah seperti cacing. Ia tidak memiliki tangan, kaki, tanduk, bahkan mungkin tidak memiliki penglihatan dan pendengaran yang sempurna. Namun, seperti makhluk lainnya, ia memiliki kebutuhan dasar: perut yang harus diisi agar tetap hidup. Dalam keterbatasannya, ia tetap bertahan.

Baca Juga  Kejati Maluku Periksa 12 Saksi Kasus Dugaan Korupsi Dana Gempa Rp167 Miliar di Malteng

Manusia berbeda. Kita dianugerahi akal dan ilmu agar tidak tersesat. Ihdinash shirathal mustaqim. Puasa pun disyariatkan sebagai metode pembebasan diri dari keterpurukan—sebuah latihan spiritual untuk mengendalikan diri dan menata batin.

Namun pertanyaannya: mengapa manusia, makhluk yang disebut paling sempurna, justru sering kalah oleh keadaan, putus asa, bahkan memilih mengakhiri hidup?

No More Posts Available.

No more pages to load.