Puisi-Puisi Muakrim M. Noer Soulisa

CERICIT DARI DEK 4

Lemahnya masih terasa,

ketika kugulung sisa sinar emas hamparan padang ilalang

Dari lembar hijau cemara.

Atau dari tangkai-tangkai edellweis yang bercampur wangi tanah

Dinginnya tersimpan di hati,

ketika kulebur jiwa dalam dingin danaunya

Bekunya kini membekukan hingga belulang seperti remuk redam

Namun aku rindu lemah

Tapi aku ingin dingin, lalu aku ingin beku

Atau pun bunyi gemeretak belulang menahan beban

Yah…Aku rindukan angkuhnya badai pasirmu

Benar, aku rindu debu lintasanmu

Atau pun elus genit edellweis bertabur embun,

Juga harum dingin danau serta sketsa bukitbukit kecil

Aku menengadah pada langit

Namun bukan untuk Tuhan

Aku bersua untuk jiwa

Namun yang ada hampa

Haruskah aku merayu?

Bermanja pada sesendok tanah pasir yang kucuri di puncakmu?

Mestikah kucumbu sisa wangi embun edellsweis yang tak lagi

wangi?

Ah…Aku mengigau lagi

Antara kenteng songo dan kawah Meru

kusimpan secuil cerita.

Untuk sebuah nama

Dan sebuah tanya

Tanjung Perak, September 2009

=====

LIHAT DALAM ALAM

butiran pasir timur telah kerontang

tertiup angin pancaroba, terdampar di laut kaspia

menyelam susuri balkan lalu timbul di tanjung pengharapan

dan matibagai bangkai dikerubungi burung nazar

eoforia aurora australia di selatan kutub malu mematung

berlari di ketiak dewi aborigin

menangis, mengadu

ia terdiam tidak mampu bergerak

bumi telampau panas

geliat pengembara mematung

tak ada pohon untuk berteduh

semuanya tumbang jatuh tersungkur

kini tinggal ranting lapuk mencakar langit

mega biru tak lagi biru

ia diperkosa

bumi

tanah

ber-rahim bencana

anjing eskimo tak lagi menyalak

kukunya tumpul, taring didempul

tajam mata dibantai halimun

balokbalok es mencair

kristal salju pudar

hanya darah berkaca di cermin retak

kita; para anjing hanya mendengus, mulut terkatup

tinggal mati menanti saat bumi memaki

Ambon, 28 Desember 2011

=========

PARA PEMBUAL  KAKI LANGIT (SABDA BUMI)

ada buih di jalanku, yang membuat hanyut terhempas dalam sketsa aliran

disetiap lekuk batu dan cadas kutitipkan rasa menderu tentang cinta  yang tak dimengerti

seribu cinta seribu cinta dalam dekap mata pena mengalir

tergerai tutup sembilu yang lama buat hati nyilu

namun kemudian mati;pucat pasi

akh…digoreskan lagi tinta tentang dahaga yang merogoh kantung kemaluan pertiwi

seribu cinta seribu cinta

dalam dekap mata pena kembali mengalir

basahi persada, nodai realita

dalam refleksi warna luka tiada tara

panggilkan kepadaku semua para pembawa tarian tinta itu

mereka yang melukis kata;yang katanya atas nama hati, cinta dan kemanusiaan

mereka yang bercerita tentang aku

seakan mereka mengerti rasa ini

seperti mereka tahu luka ini

mereka bilang akan menjadikanku hijau

namun bagiku hijau adalah warna dosa

kata siapa??

pasti itu pikirmu

pikir kau

kalian

yah, lantaran kata itu, “hijau” adalah kata kebohongan

yang diucapkan kalian para pendusta berwarna hitam

mereka bilang aku akan dijadikannya biru

namun bagiku biru itu adalah kedalaman

dan aku tak ingin tenggelam

kata siapa?

pasti itu pikirmu

pikir kau

kalian

yah, lantaran kata itu, “biru” adalah kata dusta

yang diucapkan para pemilik jari kelam

hatimu hitam

kau, kau..

kalian para binatang berbaju hijau yang menukik di kedalaman biru.

kalian memujaku dari bawah kaki langit

aku akan memuja kalian

dengan luka yang kalian titip

kukirim banjir darah

kutebar badai air mata

kubakar hijau dan biru yang kalian janjikan

tertawalah, sebab ini adalah hari terakhir

dimana kalian para penghuni kaki langit

akan ku kubur

di bawah langit

Ambon,02 Maret  2014

===============

SEKALI TEMPO DI PERBATASAN

sekali tempo

di negeri orangorang berkoteka

saat bulan ranum

dalam purnama elips tak jua sempurna

aku bersua pada satu jiwa

dalam tabuhan nafas yang tak malumalu

torang punya tanah!”

torang punya hewan!”

torang punya air!”

torang punya gunung!”

torang punya semua!”

“salah, itu bukan torang punya lagi”

sekali tempo

di negeri orangorang berkoteka

saat bulan ranum tertutup awan hitam

sehitam nasib dan kulit

pemilik nafas yang tak malumalu

Perbatasan Indonesia-Papuanugini, 2011

==========

TANYA TUHAN DI WAE ELA

air hujan, air tanah menjelma esa

tajam pasir, kasar batu jadilah tunggal

pohon kecil, pohon besar jadilah satu

hanyutlah

anak kecil, bayi besar

larilah semuanya

semuannya berlarilah

rumah gubuk, mirip istana hanyutlah

nyawa baik, nyawa pendosa pergilah

tangis tertahan, tangis lepas

semuanya semuanya

menangislah

ini hari Tuhan bermain tebaktebakan

pada gunung yang patah kaki

pada keruh air kecoklatan

pada anak keci, pada bayi besar

bilamana kau tak bisa menjawab

jadilah si pendusta

ini hari Tuhan bermain tebaktebakan

siapa kotori laut dan tanah?

mengapa rakus pasir dan batu pada sungai ramah?

pohon kecil, pohon besar siapa suruh tebang?

tak mampu menjawab?

mengalirlah deras

larilah cepat

menangislah

tak mampu menjawab?

Jadilah si pendusta

Negeri Lima (Ambon), 2013

========

MUAKRIM M. NOER SOULISA

Darah seninya mengalir dari sang Ayah yang adalah seorang pelukis dan guru seni rupa. Ia menulis dan melukis sejak di bangku SMP. Puisi dan karya sastra lainnya (cerben, cerber, naskah teater) dipublikasikan lewat blog pribadinya dan sering dipentaskan di kampus-kampus maupun pentas yang diadakan oleh penyair Maluku. karyanya juga diikutsertakan dalam antologi puisi penyair Maluku (2013) Biarkan Katong Bakalae dan dalam waktu dekat akan menerbitkan novel pertamanya. Ia sering tampil di pentas sastra Malam Kapata yang dimotori Bengkel Sastra Maluku.Selain aktif sebagai konsultan engineering, lelaki kelahiran Hila 11 April 1986 ini juga aktif dalam Komunitas Pecinta Alam Palahi-Halawang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: