Aku dan Tulisan Tentangmu

Cerpen Karangan: Ananda Faradilla

Jam dinding berdenting menunjukan pukul satu pagi. Aku masih berkutat dengan tulisan yang ada di layar laptopku. Mencari-cari inspirasi untuk apa yang akan kutulis selanjutnya. Aku mencari-cari buku di sekitar meja belajarku. Akhirnya aku menemukannya juga. Buku yang sudah kaku bekas terkena air hujan waktu itu ketika aku pulang dari kedai kopi dan lupa membawa payung. Buku yang berisi dengan coret-coretan tinta tentangmu. Tentangmu yang tidak pernah kau tahu. Kubuka lembar-lembaran itu. Tepat di lembar ke tujuh, sebuah lembaran yang bercerita tentang apa yang terjadi siang itu.

Emir Hanindio. Lelaki bertubuh kekar dan berpunggung lebar itu membuatku kembali memikirkannya. Siang itu dari atas lantai tiga kau menepuk bahuku dengan lembut. “Titip ya.” Katamu sambil menyerahkan lembaran formulir.
“Ini punya siapa?” Tanyaku lalu menerima lembaran formulir yang kau beri.
“Punya anak-anak, nanti tolong dikashi ya.” Pesanmu sebelum berlalu dari hadapanku. Setelah kau berlalu, aku masih mengamati setiap langkah kakimu di setiap turunan anak tangga. Hingga habis semua anak tangga yang kau jejaki, aku masih terus mengamati. Ah lagi-lagi kata-kata itu kembali terngiang di telingaku sampai sekarang.

Kadang aku tak pernah mengerti tentangmu, kamu bisa bersikap menyenangkan sekaligus menyebalkan dalam waktu bersamaan. Namun aku selalu suka tingkahmu yang menyebalkan itu. Sikapmu yang menyebalkan itu membuatku cukup menguras emosi. Emosi-emosi dari dalam hati yang sangat aneh menurutku. Sering kali kamu bersikap menyebalkan dengan meledekku mengatakan hal-hal lucu yang mampu membuatku tak kuasa menahan tawa, menjahiliku dengan menyembunyikan ponselku hingga jam pulang berakhir yang langsung kucubit pinggangmu ketika tahu bahwa ternyata kamu adalah dalang dibalik semuanya.

Aku pernah membaca novel berjudul revered back ditulis oleh Inggrid Sonya yang mengatakan bahwa “Ada berbagai macam cara manusia mencintai orang yang dicintainya. Diantara banyaknya cara, mengagumi diam-diam adalah yang paling menyakitkan. Dan perasaan yang terlalu lama diendap dalam-dalam tanpa balasan itu… sama menyakitkannya.” Mungkin memang benar kata-kata yang tertera pada kutipan yang dituliskan. Mengagumi diam-diam adalah yang paling menyakitkan.
Aku menjadi seseorang yang gemar menulis tulisan-tulisan sendu tentangmu, hampir setiap susah tidur seperti ini aku suka mencoret buku kusam yang sudah hampir penuh dengan tulisan-tulisan untukmu. Hingga aku mulai membuat blog yang lagi-lagi berikan tentangmu. Setidaknya ada lima tulisan yang aku buatkan untukmu yang aku unggah disetiap malam minggu. Aku memulainya dari akhir bulan juli.

untukmu yang pernah kusayangi tanpa karena
Agustus 19, 2017

satu bulan lagi, tepatnya aku mengenalmu dalam satu-satuan tahun.
memang tidak begitu lama, tapi tidak pula sebentar.
aku perlu melewati puluhan purnama untuk bisa melewatkanmu
melewatkanmu yang ternyata sesulit menampung jatuhnya air hujan,
yang tak akan mungkin bisa kulakukan

kamu, yang pernah kusayangi tanpa karena
memberiku banyak pelajaran tentang rindu yang menjelma menjadi udara yang kubutuhkan
puing-puing itu ikut berbaris menjadi keping kepingan
kepingan yang telah kuhentikan

kamu yang pernah kusayangi tanpa karena,
hingga detik ini pun aku enggan menghapus rata perasanku
bukan karena aku tidak mau
namun karena aku tidak mampu
aku terlalu kaku mencintaimu dengan penuh sembunyi-sembunyi

kamu yang pernah kusayangi tanpa karena,
kamu tidak akan pernah tahu bahwa kamu selalu jadi alasan pertamaku untuk melanjutkan intuisi
menggambarkannya di kertas putih
mewarnainya dengan penuh harapan harapan kosong yang kubuat
harapan kosong yang tidak pernah nyata
harapan kosong yang tidak pernah ada

Lewat tulisan itu aku ingin memberi tahu kepada semesta bahwa aku menyayangimu dalam diam lewat tulisan-tulisan yang aku buat. Tidak ada semalampun yang aku lewatkan tanpa membuatkan tulisan-tulisan tentangmu. Lewat tulisanku itu, aku ingin memberitahu bahwa aku menyayangimu tanpa karena, lalu berhenti sebelum akhirnya dikalahkan kembali. Menyayangimu dalam diam membuatku harus berani mengambil resiko-resiko yang akan terjadi. Aku harus berani berserah diri bahwa aku sudah bersiap patah hati. Karena yang kutahu jika kita berani jatuh hati, kita juga harus berani untuk patah nantinya. Dan aku sudah melakukan itu untukmu, untukmu yang tidak pernah tahu. Sudah hampir satu tahun aku memendamnya sendiri bergerilya dengan semua perasaanku, aku menyimpannya dengan sembunyi-sembunyi takut jika suatu saat nanti kamu akan mengetahui.

Tepukan tanganmu di bahuku waktu itu memang terlalu sederhana untuk dilebih-lebihkan. Karena memang tidak ada yang spesial, tidak ada yang harus dipanjangkan. Tapi, aku selalu suka untuk membicarakan, selalu. Mungkin itu hanya sebuah angin lalu untukmu, namun tetap mampu membuat desiran di hatiku. Seolah tak ada aliran darah dalam tubuhku, yang berhenti secepat itu. Inilah bentuk segala ketakutanku akan segala yang ada pada diriku, yang berkaitan tentangmu. Aku takut akan segala respon berlebihan yang ada dalam tubuhku tentangmu. Karena hanya denganmu aku harus pandai-pandai menjaga emosi, menstabilkannya dengan perasaan yang biasa saja.

Aku selalu suka melakukan sesuatu yang berhubungan denganmu. Aku suka mendengarkan lagu yang kau dengarkan setiap pagi sebelum bel berbunyi. Aku suka menonton film-film action dan humor yang kamu sukai agar aku selalu mempunyai topik pembicaraan denganmu. Aku suka memandangimu ketika kamu berjalan menuju masjid saat adzan zuhur lalu kembali mengamatimu sepulangnya kamu dari masjid. Aku juga suka membuatmu tulisan yang tak akan ada habisnya, seperti ini. Lagi-lagi aku membuatkanmu sebuah tulisan yang hanya mampu kusimpan untukku sendiri.

Adalah kamu

adalah kamu yang membuatku tak bisa menahan gengsi
adalah kamu yang menbuatku tidak pernah percaya diri
adalah kamu yang mampu membuatku mengamati
adalah kamu yang selalu seperti ini

adalah kamu tentang risalah hati
adalah kamu tentang semua intuisi
adalah kamu untuk segala persoalan yang tak akan pernah aku mengerti

adalah kamu,
sosok yang kuanggap berbeda
adalah kamu,
sosok yang selalu ingin ada di setiap doa
adalah kamu,
perjalanan yang membuatku enggan berhenti
adalah kamu.

Dapat berbicara sesuatu denganmu adalah hal yang paling aku sukai. Aku suka ketika kamu membicarakan klub sepak bola jagoanmu yang menang tanding semalam. Aku suka ketika kamu berbicara dengan lantang di depan kelas sambil mempresentasikan hasil kerjamu. Aku suka ketika kau sedang berbicara tentang ramainya komedi putar yang ada di sepanjang jalan menuju sekolah ketika malam hari. Aku suka ketika kamu berbicara tentang impian-impian yang akan kau capai ketika besar nanti. Tapi tidak untuk saat ini, tidak ketika kamu membicarakan tentang dia.

“Adri, Dri, Dri, Dri.” Panggilmu kepadaku dengan raut wajah bahagia seolah habis mendapat kupon undian.
“Kenapa sih?” Tanyaku penasaran. Aku penasaran apa alasan yang membuat wajahnya berseri-seri.
“Semaleman aku sama dia chatingan terus ngga berhenti-berhenti. Ah seneng banget deh pokoknya.” Jawabnya masih dengan wajah berseri-seri. Mendengar jawabannya, ada perasaan yang membuat hatiku sedikit nyeri. Bahwa ternyata bukan aku alasan dibalik bahagianya.
“Asik dong ya, kan aku udah bilang dibawa asik aja.” Ucapku kepadamu dengan wajah yang tak kalah senangnya. Siapapun tolong jangan lepaskan topeng itu dulu, setidaknya hingga habis obrolan ini. Kadang aku benci berpura-pura bahagia untuk sesuatu yang bahkan tidak aku rasakan, apalagi aku dapatkan.
“Iya ini aku udah jalanin sesuai saran kamu. Makasih banget banget banget pokoknya. Kalo ngga ada kamu yang bantuin pasti aku sama dia ga bakal kaya gini.” Kamu berterima kasih padaku yang kubalas dengan kekehan dan jawaban sama-sama.

Emir, untuk semua perbincangan kita, aku suka membahas semuanya, segalanya tapi tidak untuk yang satu ini. Tapi memangnya aku punya hak apa? Aku mulai menyadari bahwa aku memang bukan bahagia yang kau cari. Karena jika kita tidak bisa menjadi alasan seseorang untuk bahagia, jangan jadikan diri kita sebagai penghalang kebahagian seseorang untuk bahagia. Dan aku mencoba untuk melakukan itu, meski sakit, meski aku tahu itu sulit.

Aku pernah memutuskan untuk berhenti. Ketika kupikir aku sudah berhasil membuang jauh-jauh perasaanku, perasaan yang tak pernah aku mengerti, perasaan yang sering berganti, perasaan yang membuatku bimbang sendiri. Setelah habis sudah tidak ada lagi topik tentangmu selama 3 bulan ini, karena kuyakini rasa ini telah pergi. Ternyata aku hanya mencoba berhenti lalu dikalahkan kembali.

Segala cara telah aku lakukan mulai dari menghapus pesan-pesanmu di ponselku hingga menghapus daftar hal-hal yang kamu sukai, semua itu masih belum ampuh untuk melupakanmu. Kenyataannya aku masih kembali disini, dengan hati yang utuh. Lagi-lagi untukmu, untukmu yang tidak pernah tahu.

Aku kembali melirik jam dinding yang kini menunjukan pukul 2 kurang delapan belas menit. Aku telah menghabiskan empat puluh dua menit hanya untuk mengingat-ingat tentangmu. Namun seperti yang kubilang tadi, aku selalu menyukainnya bila itu tentangmu. Aku mulai mengambil ponselku dan membuka galeri fotoku. Ada salah satu foto yang terkunci disana. Ingin tahu apa isi di dalamnya? Semua itu tentangmu. Foto-foto candidmu yang kuambil secara diam-diam diwaktu-waktu tertentu, foto kita berdua yang kudapat dari hasil zoom dari foto kelas kita beramai-ramai yang memang kebetulan posisi kita yang berdekatan. Aku melakukan semuanya karena aku terlalu takut untuk memintamu foto berdua denganku.
Di jam-jam produktif seperti ini aku kembali menemukan tulisan yang pernah aku peruntukan untukmu tentang usahaku yang mencoba melupakanmu sebelum kegagalan itu akhirnya datang menghampiri.

Yang Terlewatkan
Juni 16, 2017

diantara pilihan-pilihan itu
aku lebih memilih bertumpu pada pilihanku sendiri.
melanjutkan tanpa harus kembali
tidak mudah memang,
namun tak ada yang harus diperdebatkan
tentang hal-hal penuh kerinduan
yang menjelma menjadi satu kesatuan seolah ikut menertawakan kebodohkanku yang terus kulanjutkan.

pintu kembali masih terbuka
jurang-jurang pun diperlebar
seolah tak ada pilihan,
aku lebih memilih untuk terus berjalan
walau tanpa tujuan,
walau tak ada pemberhentian.

perihal banyak lamanya waktu
dalam hal melupakanmu ini
mungkin tak bisa dihitung dengan satuan-satuan hari
atau bahkan butuh tiga kali putaran revolusi bumi
dan selalu diselipkan magnet untuk menarikku kembali
namun dayaku akan aku isi
sayang,
aku mencintaimu dalam diam
melupakanmu dengan tenang.
Namun yang terjadi adalah aku yang gagal melupakanmu, gagal setelah mencoba hampir tiga bulan.

“Emir, ini bagusan letakin di pojok kanan atau kiri?” Tanyaku yang memang letak peta Indonesia.
“Letakin di situ dulu aja Dri, nanti baru dipikirin mau taruh dimana.” Jawabmu santai sambil membereskan buku-buku dan beberapa sampah dari lemari.

Hari ini tim sekolah mengadakan kerja bakti membersihkan kelasnya masing-masing. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai kerja bakti, namun karena aku melakukannya denganmu, aku selalu tampak bersemangat. Selalu seperti itu.
“Oh ya udah, aku taruh di meja dulu ya.” Ujarku sambil meletakan peta yang nantinya akan dipajang di dinding belakang kelas.
“Iya ditaruh situ aja. Aku mau cari paku sama palunya dulu buat nanti gantungin talinya.” Katamu kepadaku sambil memunguti sampah-sampah yang berserakan di kolong-kolong meja anak-anak kelas.

Disaat menurut laki-laki lain kerja bakti adalah tugas para perempuan saja, kamu tidak begitu. Kamu ikut turun tangan mengambil sapu lalu menyapu tiap-tiap bangku yang di tiap-tiap barisan. Kamu juga ikut mengelapi kaca dengan kanebo yang sengaja kau bawa dari rumahmu. Kamu juga turut membersihkan meja-meja yang kotor karena bekas coretan pulpen atau tip-ex yang dilakukan oleh tangan-tangan jahil. Kamu bahkan tidak sungkan untuk mengambil air menggunakan ember di kamar mandi laki-laki lalu membawanya ke kelas dan mengepel lantainya dengan tanganmu sendiri.

“Dri tolong perasin pelannya, biar aku aja yang ngepel.” Perintahnya kepadaku pelan. Aku menurutinya dengan memeraskan pelan yang diangkat.
“Rajin banget sih Mir.” Ucapku. Dia bahkan terlalu rajin untuk ukuran anak laki-laki. Ketika sebagian anak laki-laki yang lain malah asik bermain bola di lapangan sekolah, kamu malah asik membantu bersih-bersih. Kamu memang tidak akan ada bandingnya dengan mereka. Kamu berbeda.
“Jadi anak sekolah ya harus rajin lah Dri. Nanti kalo males-malesan mau jadi apa.” Katamu sambil mengelap keringat yang mulai bercucuran mengenail pelipis matamu. Aku yang melihat itu berinisiatif mengambilkan tissue yang kebetulan kusimpan di dalam tas sekolahku.
“Aku ambilin kamu tissue ya, tuh liat keringetnya banyak banget. Kalo capek sini gantian dulu.” Omelku kepadanya. Aku tahu sebenarnya dia sudah lelah. Ya memangnya siapa yang tidak lelah jika melakukan semua itu. Namun dia terlalu berkepala batu. Tidak baik mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah katamu kepadaku.
“Ngga usah ini sebentar lagi selesai kok. Yang ada juga kamu dari tadi pasti capek. Mending kamu duduk aja di depan kelas.” Lagi-lagi malah dia yang menyuruhku untuk duduk berdiam diri saja.

Aku berinisiatif membelikanmu air mineral dingin, karena kau tahu kamu tidak pernah membawa air minum sendiri dari rumah karena alasan berat, dasar lelaki. Kulihat kamu sedang membuang air bekas kain pel di sekolah dekat wasfatel lantai bawah.
“Ini ambil minumnya, sengaja aku beliin.” Aku menyerahkan sebotol air mineral dingin yang tadi kubeli di kantin kepadanya.
“Makasih Dri.” Balasmu. Emir, Emir. Tanpa mengucapkan terima kasih aja aku sudah bahagia dengan kamu menerima pemberianku. Bentuk perhatian-perhatian kecilku kepadamu.

Semakin kesini, rasanya semakin sulit saja melupakanmu. Bahkan aku tak perduli posisinya yang sudah berdiri di hatimu. Aku memilih untuk tetap pada pendirianku untuk menyayangimu, memendam perasaanku kepadamu.

Bagiku, pembicaraan singkat kita beberapa bulan lalu ibarat pedang tajam. Kau tidak pernah tahu bahwa aku seterluka itu. Kau tidak akan mau repot-repot untuk sekedar memikirkanku, karena memang kamu tidak pernah tahu.
Aku-pun seolah bodoh dengan sengaja mendekatkamu dengannya, mencoba menyakiti diriku dengan cara yang kubuat sendiri. Mungkin itu sebagai pelampiasan rasa sakitku saja atau mungkin satu langka untuk mematikan rasa? Agar tidak ada lagi rasa nyeri yang hinggap di dada ketika kamu membicarakannya

Emir.
aku mencintaimu dari baris paling belakang,
teramat belakang
hingga yang lain pergi,
hanya tersisa aku dengan ketidak sempurnaanku
untukmu,
yang tidak pernah tahu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: