menangis, mengadu
ia terdiam tidak mampu bergerak
bumi telampau panas
geliat pengembara mematung
tak ada pohon untuk berteduh
semuanya tumbang jatuh tersungkur
kini tinggal ranting lapuk mencakar langit
mega biru tak lagi biru
ia diperkosa
bumi
tanah
ber-rahim bencana
anjing eskimo tak lagi menyalak
kukunya tumpul, taring didempul
tajam mata dibantai halimun
balokbalok es mencair
kristal salju pudar
hanya darah berkaca di cermin retak
kita; para anjing hanya mendengus, mulut terkatup
tinggal mati menanti saat bumi memaki
Ambon, 28 Desember 2011
=========
PARA PEMBUAL KAKI LANGIT (SABDA BUMI)
ada buih di jalanku, yang membuat hanyut terhempas dalam sketsa aliran
disetiap lekuk batu dan cadas kutitipkan rasa menderu tentang cinta yang tak dimengerti
seribu cinta seribu cinta dalam dekap mata pena mengalir
tergerai tutup sembilu yang lama buat hati nyilu
namun kemudian mati;pucat pasi
akh…digoreskan lagi tinta tentang dahaga yang merogoh kantung kemaluan pertiwi
seribu cinta seribu cinta
dalam dekap mata pena kembali mengalir
basahi persada, nodai realita
dalam refleksi warna luka tiada tara
panggilkan kepadaku semua para pembawa tarian tinta itu
mereka yang melukis kata;yang katanya atas nama hati, cinta dan kemanusiaan
mereka yang bercerita tentang aku




