sekali tempo
di negeri orangorang berkoteka
saat bulan ranum tertutup awan hitam
sehitam nasib dan kulit
pemilik nafas yang tak malumalu
Perbatasan Indonesia-Papuanugini, 2011
==========
TANYA TUHAN DI WAE ELA
air hujan, air tanah menjelma esa
tajam pasir, kasar batu jadilah tunggal
pohon kecil, pohon besar jadilah satu
hanyutlah
anak kecil, bayi besar
larilah semuanya
semuannya berlarilah
rumah gubuk, mirip istana hanyutlah
nyawa baik, nyawa pendosa pergilah
tangis tertahan, tangis lepas
semuanya semuanya
menangislah
ini hari Tuhan bermain tebaktebakan
pada gunung yang patah kaki
pada keruh air kecoklatan
pada anak keci, pada bayi besar
bilamana kau tak bisa menjawab
jadilah si pendusta
ini hari Tuhan bermain tebaktebakan
siapa kotori laut dan tanah?
mengapa rakus pasir dan batu pada sungai ramah?
pohon kecil, pohon besar siapa suruh tebang?
tak mampu menjawab?
mengalirlah deras
larilah cepat
menangislah
tak mampu menjawab?
Jadilah si pendusta
Negeri Lima (Ambon), 2013
========
MUAKRIM M. NOER SOULISA
Darah seninya mengalir dari sang Ayah yang adalah seorang pelukis dan guru seni rupa. Ia menulis dan melukis sejak di bangku SMP. Puisi dan karya sastra lainnya (cerben, cerber, naskah teater) dipublikasikan lewat blog pribadinya dan sering dipentaskan di kampus-kampus maupun pentas yang diadakan oleh penyair Maluku. karyanya juga diikutsertakan dalam antologi puisi penyair Maluku (2013) Biarkan Katong Bakalae dan dalam waktu dekat akan menerbitkan novel pertamanya. Ia sering tampil di pentas sastra Malam Kapata yang dimotori Bengkel Sastra Maluku.Selain aktif sebagai konsultan engineering, lelaki kelahiran Hila 11 April 1986 ini juga aktif dalam Komunitas Pecinta Alam Palahi-Halawang




