Puisi-Puisi Muakrim M. Noer Soulisa

oleh -315 views

sekali tempo

di negeri orangorang berkoteka

saat bulan ranum tertutup awan hitam

sehitam nasib dan kulit

pemilik nafas yang tak malumalu

Perbatasan Indonesia-Papuanugini, 2011

==========

TANYA TUHAN DI WAE ELA

air hujan, air tanah menjelma esa

tajam pasir, kasar batu jadilah tunggal

pohon kecil, pohon besar jadilah satu

hanyutlah

anak kecil, bayi besar

larilah semuanya

semuannya berlarilah

rumah gubuk, mirip istana hanyutlah

nyawa baik, nyawa pendosa pergilah

tangis tertahan, tangis lepas

semuanya semuanya

menangislah

ini hari Tuhan bermain tebaktebakan

pada gunung yang patah kaki

pada keruh air kecoklatan

pada anak keci, pada bayi besar

bilamana kau tak bisa menjawab

jadilah si pendusta

Baca Juga  Jelang Mubes IKA Unidar Ambon, Panitia Buka Pendaftaran Calon Ketua Umum

ini hari Tuhan bermain tebaktebakan

siapa kotori laut dan tanah?

mengapa rakus pasir dan batu pada sungai ramah?

pohon kecil, pohon besar siapa suruh tebang?

tak mampu menjawab?

mengalirlah deras

larilah cepat

menangislah

tak mampu menjawab?

Jadilah si pendusta

Negeri Lima (Ambon), 2013

========

MUAKRIM M. NOER SOULISA

Darah seninya mengalir dari sang Ayah yang adalah seorang pelukis dan guru seni rupa. Ia menulis dan melukis sejak di bangku SMP. Puisi dan karya sastra lainnya (cerben, cerber, naskah teater) dipublikasikan lewat blog pribadinya dan sering dipentaskan di kampus-kampus maupun pentas yang diadakan oleh penyair Maluku. karyanya juga diikutsertakan dalam antologi puisi penyair Maluku (2013) Biarkan Katong Bakalae dan dalam waktu dekat akan menerbitkan novel pertamanya. Ia sering tampil di pentas sastra Malam Kapata yang dimotori Bengkel Sastra Maluku.Selain aktif sebagai konsultan engineering, lelaki kelahiran Hila 11 April 1986 ini juga aktif dalam Komunitas Pecinta Alam Palahi-Halawang

Baca Juga  Tegas! Bupati Malra: Lebih Baik Jabatan Kosong daripada Salah Isi