“Pasukan-pasukan elite Kesultanan Ternate ditempatkan di Pulau Hiri. Letaknya strategis dan menjadi pintu masuk ke Ternate, pulau ini menjadi saksi sejarah sebagai benteng pertahanan kesultanan menghadapi invasi para penjajah,” ujar Kepala Kelurahan Mado Abdul Kadir.

Letaknya di bibir pantai selain bisa menikmati pemandangan laut yang indah dari Pulau Hiri kita juga bisa menatap panorama Gunung Gamalama, Gunung Gamkonora, dan Pulau Halmahera nan panjang membentang itu.
Pun aktivitas aneka kapal motor, perahu nelayan, dan warga yang dengan ramah mereka melakukan aktivitas antardermaga di Pulau Hiri dan Jikomalamo di Pulau Ternate.
Pulau Hiri menjadi objek sejarah karena di tempat inilah ada seorang tokoh agama yang dikenal sebagai Waliyullah Alhabib Said Thaha Bin Muhammad Bin Abdurrahman Hasyim Albaar yang kerab dipanggil Tuan Hiri.
Almarhum sangat dihormati dan makamnya menjadi objek kunjungan sejarah dari berbagai lapisan masyarakat hingga pejabat.
Pulau ini dikunjungi tidak saja oleh wisatawan lokal tapi juga wisatawan nusantara. “Dari Jakarta bahkan Bali mereka datang berkunjung,” ujarnya.
Pada masa pendudukan Jepang, Pulau Hiri menjadi tempat penyelamatan Sultan Ternate Muhammad Djabir Syah dari serangan Jepang.









