“Sejak malam tadi sampai menjelang subuh, saya membaca berbagai komentar baik dari pakar maupun interpakar, ternyata persoalannya Ibu Nia tidak terima soal foto. Kalau seperti itu, ibu Nia yang dianggap sebagai korban pemberitaan segera sampaikan ke media yg bersangkutan, bahkan melaporkan sampai ke dewan pers,” jelasnya.
Persoalan kedua, lanjut Ko Halik, ibu Nia bilang wartawan t*i itu yang membuat teman-teman wartawan di Sula lapor ke polisi dengan tuduhan penghinaan terhadap profesi wartawan. Untuk itu, saya pribadi maupun nama organisasi PWI jika teman-teman di Sula melaporkan ke PWI, akan kami kawal sampai tuntas.
“Begitu juga jika ibu Nia melaporkan wartawan juga akan kami kawal sampai tuntas. Saya juga menyadari wartawan bukan malaikat yang dalam tugas tidak salah. Wartawan juga manusia pasti tetap menjalan tugas-tugas jurnalis pasti ada salah,” bebernya.
Ko berharap, para pakar dan interpakar jangan berpendapat wartawan tidak menerima kritik. Sebab hematnya, kata ‘t*i’ bukan kritik.
“Dengan demikian saya berharap para pakar dan interpakar, jangan bependapat wartawan tidak menerima kritik dalam kasus ini, bilang wartawan “t*i’ itu bukan kritik. Demikian, syukur eb-eb, Dad Hia Ted Sua,” tutupnya. (am)









