Jika tamsil Idrus ini diterapkan ke profesor muda ini, maka ada 55 hari dimana dia berak lebih dari sekali sehari! Itulah produktivitasnya menulis di jurnal.
Dan, sang profesor ini juga bukan kaleng-kaleng. Dia lulusan fakultas ekonomi UI, University of Adelaide, dan ISS – University of Rotterdam. Semuanya universitas dengan reputasi sangat baik.
Dia juga menjadi konsultan di beberapa kementerian serta beberapa lembaga internasional.
Kejadian ini, yaitu mencantumkan nama staff akademik tanpa persetujuan dan ijin dari yang bersangkutan memang sebuah skandal. Kita tidak tahu apakah sang profesor ini memang benar melakukan penelitian. Apakah dia benar menulis di jurnal-jurnal tersebut? Dan apakah jurnal-jurnal tersebut adalah jurnal yang terpercaya dan terakreditasi sebagai “peer-reviewed jorunal”? Atau bahkan, apakah dia benar-benar penulis dari artikel-artikel tersebut?
Hal itu masih harus diselidiki. Dan, yang membuat miris adalah bahwa kelakukan sang profesor ini membuat nama baiknya sendiri, institusinya, dan komunitas akademik Indonesia tercemar.
Kemudian muncul pertanyaan: Adakah ini hanya tindakan seorang profesor muda yang ingin menggapai sebanyak mungkin kesempatan selagi masih bisa?










