Meski statusnya waspada yang berati tinggi gelombang tsunami sekitar 50-60 cm, tetap ini informasi yang harus diantisipasi. Saya minta Edwin sampaikan ke semua anggota tim relawan bencana AMGPM agar membantu evakuasi warga karena ada ancaman tsunami. Belum lagi selesai bicara, di layar ponsel sudah ada panggilan dari Pendeta Donny Toisutta, Sekretaris Klasis GPM Ternate. Kami berkoordinasi hal yang sama. “Bu ee..jangan lupa mengabarkan teman – teman relawan perkembangan terbaru,”.

Di Mayau, usai dapat kabar jika lindu 7,4 SR itu berdampak tsunami, Nando dan Edwin bergegas ke rumah warga. Di jalan mereka bertemu dengan banyak relawan lain. Lalu mereka berbagi tugas. Membangunkan warga yang masih tertidur, mengabarkan ancaman tsunami dan minta warga bergerak menuju daerah ketinggian. Semuanya serba cepat. Berburu waktu dalam suasana malam yang gelap.
Jumat dinihari itu warga Mayau, Lelewi, Perum Bersatu dan Bido seperti dikomando. Tua muda anak – anak bergegas dalam langkah dan doa. Tsunami!!. Di dalam gereja, Ape meraih microphone dan mulailah Ia memberi komando. “Bapak Ibu jangan panik, kita bergerak ke SMA Negeri 11. Yang di komplek Gudang bergerak ke Lapangan Radio. Yang kuat membantu anak anak dan perempuan, terus bergerak sesuai petunjuk relawan,” ucapnya berulang kali. SMA Negeri 11 terletak di bebukitan bagian timur Mayau. Jaraknya sekitar 400an meter. Punya lapangan luas. Lokasi ini dan jalur evakuasi sudah ditetapkan relawan jauh sebelum lindu datang.




