Di ujung selatan batas pemukiman Mayau, saat lindu mengguncang. Popy Sadondang (24 tahun) terbangun. Di papah suaminya yang guru, Ia tertatih keluar rumah bersama anaknya. Di depan sudah ramai. Ada dua relawan menunggu. Sayup sayup suara Ape dari corong gereja timbul tenggelam di bawa angin malam. “Mari Ibu, kita harus ke lapangan Radio”, ajak salah satu relawan.
Di temani suami dan anaknya, perempuan muda yang tengah hamil tua itu berjalan perlahan. Usia kehamilan yang berbilang sembilan bulan memperlambat geraknya. Relawan sabar memapah. Jarak rumah Popy ke titik kumpul sekitar 150 meter. Butuh 20 menit untuk tiba di lapangan itu, di sana ratusan warga sudah berkumpul. Semuanya gelisah. Panik bercampur aduk dengan ketidakpastian.

Popy bercerita jika malam itu, uluran tangan relawan sangat membantu. Ia bersyukur akhirnya tiba di lapangan Radio. Meski ancaman tsunami dicabut BMKG dua jam kemudian, ketakutan tak pernah pergi. “Pikiran saya terbagi ke anak dan jabang bayi. Malam itu saya tak bisa tidur karena sangat khawatir,” akunya. Popy sama dengan kebanyakan warga yang sudah mendengar adanya tim relawan bencana milik Gereja, namun baru dinihari itu, kehadiran mereka jadi sangat berarti di tengah kepanikan warga.




