Relawan Bencana Di Pulau Terluar

oleh -14 Dilihat

Penghujung November tahun lalu, 50 anak muda di Mayau, Bido, Perum Bersatu dan Lelewi berkumpul di gereja Efata. Mereka mengikuti pelatihan mitigasi yang menjadi bagian dari program Inisiasi Masyarakat Tangguh Bencana (ISTANA 2018). Ini program dari LSM Rorano Maluku Utara yang bekerja sama dengan AMGPM ranting Efata. Selama empat hari penuh, puluhan anak muda ini diberi pengetahuan dan ketrampilan tentang pemahaman bencana dan bagaimana meresponsnya secara benar, dasar dasar assesment dan penyusunan SOP kedaruratan hingga materi tentang Pertolongan Pertama berdurasi 8 jam. Lengkap? Belumlah. Karena di ujung pelatihan itu, kami melakukan simulasi kedaruratan untuk menguji pengetahuan dan ketrampilan yang sudah di dapat.

Baca Juga  Bupati James Uang Salurkan Insentif Triwulan III bagi Imam dan Pendeta di Halbar

Pilihan Rorano melakukan program ISTANA 2018 di Mayau semata karena kebutuhan warga. Diminta anak anak muda itu yang sebelumnya terlibat bekerja sama dalam kampanye HIV dan AIDS. Letak geografis Batang Dua yang di kelilingi banyak subduksi lempeng pemicu gempa dan jarak yang jauh dari Ternate menghendaki adanya kapasitas di level lokal. Mereka harus bisa menolong diri sendiri saat gempa terjadi dan tsunami mengancam. Kapasitas itulah yang coba ditingkatkan untuk mengatasi tingginya ancaman dan kerentanan. Gereja dalam hal ini memberi dukungan penuh dan bahkan menetapkan sebuah keputusan tentang pembentukan tim bencana AMGPM yang dilantik Februari tahun ini.