Alex Salu (64 tahun) salah seorang pemuka adat Mayau memberi apresiasi. Kehadiran anak anak muda yang punya pengetahuan dan ketrampilan dalam menolong ini jadi pembeda. “Kami tak tahu akan ada tsunami. Mereka (relawan) yang memberi tahu, mereka juga membantu warga saat evakuasi, menghitung jumlahnya lalu minta agar kita berdoa dan menunggu hingga pagi,” kata Alex. Para relawan juga meminta warga yang ada di dua titik pengungsian agar tak percaya hoaks. Jika ada informasi lain soal gempa atau tsunami sebaiknya disampaikan ke tim relawan. Ape jadi orang terakhir yang tiba di SMA Negeri 11. Ia minta semua relawan berkumpul. Rapat sebentar lalu berbagi tugas karena situasi masih mencekam. Beberapa relawan diminta mencatat jumlah pengungsi. Edwin kebagian tugas koordinasi. Dan sisa malam itu, dering telepon dari Mayau seakan tak putus. Saya dan juga Pendeta Donny tak tidur hingga matahari bersinar.

Setiap perkembangan gempa dan situasi terkini saya bagikan. Maklum di Mayau, internet jadi barang mahal. Telepon juga tak mencover semua. Hanya di Mayau, telepon bisa berdering. Sisa tempat lainnya sunyi. Tak ada tulisan telkomsel atau tanda baris di sudut kiri ponsel. Daerah ini terisolasi. Apalagi di pulau Tifure yang berjarak 77,6 nautical mile (1 mil laut = 1.852 km) dari Ternate, telepon tak pernah ada. Tak ada jaringan komunikasi sama sekali. Makanya, setelah Mayau dan sekitarnya “terkendali”, fokus ke Tifure yang tak punya kabar berita hanya terucap lewat selaksa doa. Bagaimana kabar warga Tifure dan Pante Sagu? Moga Tuhan bersama mereka.




