“Reshuffle” Kabinet Sebatas Siapa Dapat Apa

oleh -270 views

Mengapa defenisi David Easton lebih mendalam ketimbang Harold Laswell? Karena defenisi Easton sudah mengarah kepada pengalokasi nilai-nilai, seperti kesejahteraan, keadilan, pemerataan, dan lainya, melalui otoritas yang legal (otoritatif), alias sudah masuk kepada proses bagaimana politik bekerja untuk tujuan-tujuan yang lebih luas.

Sementara Harold Laswell lebih fokus pada proses bagaimana aktor-aktor mencapai tujuan politik pribadi dan kelompok, yang lebih banyak dikiblati para surveyor politik hari ini, seperti bagaimana peluang si A terpilih atau peluang si B digandeng pemenang pemilihan, dan sejenisnya.

Kendati demikian, kedua sudut pandang sama-sama dianggap mewakili defenisi politik karena memiliki konteks politik pada masing-masing proses yang ada. Toh terbukti pada reshuflle kali ini, Harold Laswell lebih mewakili fakta yang ada ketimbang David Easton.

Baca Juga  Belanda vs Jepang Berakhir Imbang 2-2, Duel Sengit Warnai Grup F

Masalahnya, apakah dari konteks Harold Laswell akan bisa dengan mulus beralih ke konteks David Easton? Apakah setelah bagi-bagi kursi akan ada proses alokasi nilai-nilai? Apakah di tangan Zulkifli Hasan Kementerian Perdagangan akan lebih berpeluang menghadirkan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran untuk semua pihak (rakyat) yang termaktup di dalam sistem perdagangan nasional? Atau apakah di tangan Hadi Tjahjanto akan lebih terbuka peluang untuk menghadirkan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, good governance, dan kemakmuran bagi semua stake holder (rakyat) di dalam ekosistem pertanahan nasional?

No More Posts Available.

No more pages to load.