Revolusi Oligarki

oleh -0 Dilihat

Tidak ada satu pun dari perkara ini selesai secara hukum. Tidak ada satu pun dari institusi yang terlibat ini bisa diminta pertanggungjawaban. Tidak ada satu pun dari mereka yang bertarung dan memakan korban rakyat-rakyat kecil yang tidak berdosa ini bertanggungjawab.

Sebagai bangsa relijius, kita selalu mengelak tanggung jawab. Selalu kita katakan, Tuhan yang akan membalas. Sementara, kuburan Soeharto di Matesih, Karanganyar, setiap hari disinggahi ratusan bus untuk berziarah. Ya, orang ngalap berkah dan mendoakan pemimpin yang lalim.

Apa yang kita dapati dari Reformasi ini? Tidak ada! Kekuasaan memang tidak lagi berpusat pada Soeharto. Bahwa kita punya partai-partai politik (sama seperti jaman Orba); kita punya politisi sipil (juga ada pada jaman Orba); tentara tidak lagi di DPR — tapi sekarang mereka di mana-mana; polisi kita sama saja kelakuannya dan bahkan jadi kekuatan politik; semuanya berbeda tapi intinya sama saja.

Baca Juga  Trump Luncurkan “Perang Ekonomi” terhadap Iran, Negara yang Membantu Teheran Diancam Sanksi Berat

DPR kita impoten — sama seperti jaman Orde Baru. Rakyat diwakili oleh para artis dan pedagang yang tahu persis bagaimana membeli suara. Bahkan Orde Baru terlihat lebih baik karena terang-terangan mendudukan para penjilat yang kompeten sebagai wakil rakyat.

Keadilan kita hanya untuk para elit — sama seperti jaman Orde Baru. Hukum kita sangat gampang dipengaruhi — sama seperti Orde Baru. Korupsi merajalela di mana-mana — sama seperti Orde Baru. Militer kita makin kuat secara sosial dan politik — apa bedanya dari rejim Orde Baru? Pemerintah daerah kita makin lemah; dan kekuasaan makin tersentralisasi — dengan para elit daerah lehernya sampai patah karena mendongak ke Jakarta — tidak berbeda dengan Orde Baru.

No More Posts Available.

No more pages to load.