Prosesi dimulai dari Gereja Maranatha sekitar pukul 01.00 WIT dan berakhir di depan Gapura Syaloom Batu Meja sekitar pukul 02.45 WIT. Sepanjang rute Via Dolorosa, suasana terasa dramatis, terutama saat adegan cambukan oleh prajurit Romawi yang memicu emosi penonton.
Sebanyak 59 orang terlibat dalam pementasan ini, dengan totalitas yang menghadirkan kembali kisah penyaliban Yesus secara detail dan menyentuh.
Ketua Paduan Suara Ora Et Labora, Non Tatipikalawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan.
“Ini bukan cerita fiktif, tetapi kisah nyata yang dihadirkan kembali. Harapannya tidak hanya ditonton, tetapi juga dirasakan, terutama oleh umat Kristen,” ujarnya.
Refleksi Iman dan Generasi Muda
Ia menjelaskan, setiap adegan dalam prosesi tersebut bertujuan menggugah kesadaran umat akan besarnya pengorbanan Yesus Kristus bagi keselamatan manusia.
Menurutnya, penderitaan yang tergambar dalam perjalanan salib menjadi simbol kasih dan pengorbanan yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda.
Menariknya, kegiatan kontemplasi Jalan Salib ini merupakan yang pertama kali digelar oleh Paduan Suara Ora Et Labora, sebagai bentuk inovasi dalam memperdalam refleksi iman jemaat.
Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Paduan Suara Ora Et Labora dan Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi (PHBG) Jemaat GPM Syaloom Batu Meja.










