”Soal jalan-jalan tikus, masyarakat punya cara sampai di tujuan dan kita hanya mengunci wilayah-wilayah pelabuhan saja, tapi jalan-jalan lain masih ada. Kalau hanya kita berfikir normatif dalam memahami virus ini ya begini. Dan secara tiba-tiba katong panik dengan pasien yang terkonfirmasi. Masyarakat bisa panik dan bisa mati karena panik. Padahal ini virus sama hal juga dengan penyakit TBC, Malaria, Deman dan sebaginya. Sekarang yang harus disapkan mental pada diri kita masing-masing”, ujar Rofik.
“Sekarang Masyarakat harus siap mentalitasi sama sama dengan barang ini.
Seakan-akan katong hari ini punya mindset orang di Indonesia ini meninggal baru 1500 orang, orang yang sakit baru 27 ribu orang. seakan-akan tiap hari katong mendengar berita tentang orang meninggal, sakit dan sembuh dan sebagainya. Coba dibuka setiap hari, banyak orang meninggal.” tuturnya.
Dihimbaunya masyarakat, dalam hal ini pemerintah, untuk harus mendorong masyarakat sama sama keluar dari situasi ini.
”Saya kira para bupati, kepala daerah harus sama-sam dan sapa jamin kunci pelabuhan lalu katong seng ada barang ini? kalau ada covid, lalu katong kunci pelabuhan, lalu bagaimana masyarakat mau hidup? Bagaimana ini? Kalau katong bikin standar, lalu pikiran rapid test. bagaimana lintas pemerintah? Harus bagaimana antara pemerintah kabupaten/kota maupun provinsi?,” tegasnya. (liehu)




