Mari turun, bukan sekadar hadir di acara, bukan di dalam ruang rapat yang tidak ada jeritan kekecewaan dan kesedihan. Tapi datang menyentuh langsung denyut luka ini. Duduk di samping pasien. Dengar keluh dokter yang tak lagi bisa bertindak. Lihat sendiri, bagaimana rumah sakit ini bukan tempat penyembuhan, tapi tempat belajar pasrah.
Katong bukan cuma minta gedung dicat ulang atau lantai diganti. Katong mau pelayanan yang bisa bikin orang bilang, “Kalau beta sakit, beta ke RSUD Masohi, karena di sana ada kasih sayang, ada tanggung jawab, ada pak Bupati yang mengawasi langsung.”
Beta tahu, ini negeri masih banyak soal. Tapi kesehatan bukan bisa ditunda. Sakit datang kapan saja, dan kalau rumah sakit pun sakit, lalu siapa yang bisa menolong? Kapal cepat hanya pagi dan sore. Melintas memutar lewat Seram Bagian Barat terlalu lama. Rumah sakit Haulussy dan Siloam cukup jauh. Kami tak mampu
Tuan Bupati, bulan masih di langit. Tapi terang hanya akan sampai ke bumi kalau tak ada awan yang menutup. Rakyat meminta tiup awan gelap ini. Bersihkan RSUD Masohi dari kelalaian, dari sistem yang sudah usang. Rombak, bangun ulang, dan hadirkan kehidupan baru bagi tempat yang seharusnya jadi tempat yang memberi kesembuhan, bukan tempat untuk memberikan wasiat kepada istri dan anak-anak.








