Rumah dan Luka

oleh -29 views

Nyonya menyuarakan nasibnya yang sudah khatam aku hafal. Wajahnya yang sendu, namun tetap berusaha meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Seakan ia berkata hanya omong kosong saja. Tetapi mata yang tak menitikkan air mata, tak cukup untuk mengelabui. Suara lantang tanpa getaran, tak lekas menipu. Wajahnya nyata memancarkan luka yang tertahan, tapi ia tetap naif dan itu adalah siksa yang ia cari sendiri.

“Harus dikatakan apa lagi? Bukankah kita sudah sama-sama tahu bahwa rumah yang menaungi kita hanya bisa menyelamatkan kita dari panasnya terik matahari dan dinginnya angin malam? Ia tak bisa menyelamatkan hati kita dari pedihnya siksa yang mendera batin, atau dari racun yang perlahan-lahan masuk ke tenggorokan. Lalu untuk apalagi menyesali nasib?”

Baca Juga  Dana Transfer Dipangkas, Bupati Halsel Hadapi Dilema: Infrastruktur atau Layanan Dasar

Aku masih bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan apa yang sejak tadi aku tahan. Melihat wajahnya, aku menjadi lemah.

“Setidaknya aku tetap bertahan. Aku mengadukan nasibku sekadar untuk mengurangi sesak yang memenuhi dada. Aku sadar jika setelah ini, sesak akan kembali bertambah meski seberapa kuat aku mencoba mengeluarkannya. Hidup tidak hanya sekadar berbahagia. Melarikan diri, berarti aku telah gagal menghadapi badai.”

Lagi, ia bersikeras dengan argumennya yang menyebalkan itu.

No More Posts Available.

No more pages to load.