Porostimur.com, Surabaya — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan tajam. Pada Minggu (17/5/2026), kurs dolar AS bahkan menyentuh level Rp17.602, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.
Pelemahan ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah pedesaan.
Dampak Tak Langsung, Tapi Nyata
Pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Fatkur Huda, menjelaskan bahwa meski masyarakat tidak bertransaksi langsung menggunakan dolar AS, dampak pelemahan rupiah tetap terasa luas.
“Nilai tukar rupiah yang menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok karena banyak sektor ekonomi Indonesia masih bergantung pada barang impor dan harga global,” ujarnya.
Menurutnya, ketergantungan terhadap bahan impor membuat fluktuasi kurs sangat berpengaruh terhadap harga barang di dalam negeri.
Petani hingga UMKM Paling Terdampak
Kelompok yang paling rentan terdampak antara lain:
- Petani
- Nelayan
- Pelaku UMKM
- Pekerja informal
Kenaikan kurs dolar berpotensi memicu lonjakan harga berbagai kebutuhan produksi seperti pupuk, pakan ternak, bahan bakar minyak (BBM), hingga obat-obatan.
Akibatnya, biaya produksi dan distribusi meningkat, yang pada akhirnya akan dibebankan ke konsumen melalui kenaikan harga barang.





