Segala Luka Kembali Menganga

oleh -367 views

“Kalau aku kangen bau bacin muntahan. Apalagi, setelah gelas kesekian itu, kamu ambruk ke lantai,” balas Dien Keumala mengejek.

“Aku ya kangen bau keringatmu,” sambung Rajendra dengan suara pelan, napas pendek, seperti kesulitan menelan liur. “Juga bau tisu menguning yang menumpuk penuh di tong sampah.”

Dien Keumala bergidik. Ia tahu arah percakapan ini. Sebetulnya, ia ingin sekali menghabiskan malam bersama Rajendra. Paling tidak, memeluknya hingga pagi matang. Ia kangen Rajendra. Soal undangan pernikahan? Tak lagi penting baginya.

Demikianlah, ia ajak Rajendra berkunjung ke hotelnya seperti memintanya dulu menginap di kosannya.

“Kamu nginep di mana to?” tanya Rajendra.

“Coba tebak,” tantang Dien Keumala menjulurkan leher ke arah Rajendra.

Baca Juga  Cara Tahu Seseorang Siap Berkomitmen dalam Hubungan

Wong edan. Mosok suruh nebak. Mana ya…Hotel Atria?”

“Salah, Rajendra. Dulu kamu suka jemput aku di pangkalan Damri di mana?” Ia pandangi lelaki di sampingnya itu dengan riang. Senyumnya terus mengembang.

“Oalah, Hotel Wisata. Ayo!” jawabnya grusa-grusu. Rajendra memang sering menjemputnya di sana. Biasanya sepulang libur semester dari Aceh, Dien Keumala turun di YIA, lalu menggunakan Damri ke Magelang.

Tatkala dikatakan ayo, terdengar teriakan dari badan jalan Pecinan. Dua orang berpasangan melambaikan tangan ke arah mereka. Dien Keumala kaget. Rajendra lebih kaget lagi. Mukanya cemas. Dengan lamban dan malas, ia balas lambaian tangan. Tak berselang lama, keduanya mendekat.

No More Posts Available.

No more pages to load.