Dien Keumala celingukan. Ia berpura-pura mengibaskan tangan, dan mengendus entah pada aroma apa. Melalui ketangkasan seorang pengakal, ia tolehkan kepalanya ke bar, kemudian menunjukkan dengan cuping hidungnya.
“Bau kopinya nyengat banget, Ndra. Aku pening.” Ia bangkit, lalu berjalan ke luar. Sejenak kemudian, Rajendra menyusulnya.
Perempuan itu sebenarnya lupa, bahwa outdoor memang tempat favoritnya. Bau kopi yang nyengat hanyalah dalih. Yang membuatnya keluar ialah rasa salit. Rajendra duduk di sampingnya, membuka rokok, menarik filter, dan menjulurkannya pada Dien Keumala. Memantik korek, lalu menyulutkan api ke rokok yang terjepit di bibirnya.
“Kamu tadi tanya apa?” ujarnya terbata-bata. Dien Keumala gusar oleh karena di dalam tasnya bersemayam undangan pernikahan, dan cincin pertunangan, yang sengaja ia lepas melingkari jari manisnya. Undangan itulah yang menuntunnya tiba di Magelang, bertemu Rajendra.
“Aku tanya, kamu kerja di galeri di Jakarta?” ulang Rajendra.
“Museum, bukan galeri,” jawabnya datar.
“Kalau soal Meutia, kamu sudah dengar masalahnya?”
Dien Keumala menggeleng. Ia ingin sekali menyampaikan niat kedatangannya. Tetapi tak sampai. Persoalannya, yang keluar dari mulutnya justru hikayat pernikahan yang dulu sempat mereka bicarakan. Hal itulah yang menengarai keanehannya.









