Generasi Baru dan Berakhirnya Romantisme Politik
Pemilu 2024 mencatat 1.341.012 pemilih dalam daftar pemilih tetap di Maluku. Di balik angka tersebut, terdapat perubahan demografis dan sosial yang harus dibaca sebagai tantangan sekaligus peluang. Generasi muda semakin menentukan arah percakapan politik, sementara media sosial telah mengubah cara masyarakat mengenali, menilai, dan mempercayai seorang pemimpin. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada komunikasi politik yang dikendalikan elite partai. Informasi bergerak cepat, kritik menyebar luas, dan rekam jejak seorang politisi dapat diperiksa dalam hitungan menit.
Generasi muda tidak cukup diyakinkan dengan cerita tentang kejayaan Golkar pada masa lalu. Mereka ingin mengetahui apa yang dapat dilakukan partai untuk menjawab pengangguran, kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan, terbatasnya lapangan kerja, serta ketimpangan pembangunan antarpulau. Mereka ingin melihat bagaimana potensi perikanan, pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif dapat menjadi sumber kesejahteraan, bukan sekadar materi pidato yang diulang setiap musim kampanye. Karena itu, regenerasi tidak boleh berhenti pada penempatan anak muda dalam struktur kepengurusan atau pemberian ruang dalam kegiatan seremonial. Mereka harus diberi kesempatan mengambil keputusan, memimpin program, dan menentukan arah organisasi.









