Porostimur.com, Teheran – Ketegangan di Selat Hormuz kian memuncak seiring konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memasuki pekan keempat. Jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi sekitar 20 persen distribusi minyak dunia itu kini berada dalam kondisi lumpuh sebagian, memicu gangguan serius pada perdagangan global.
Teheran disebut melakukan blokade terbatas terhadap selat tersebut. Namun, pemerintah Iran menegaskan jalur itu tetap terbuka bagi kapal-kapal non-musuh, seraya menyebut langkah tersebut sebagai respons terukur atas agresi militer yang mereka hadapi.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Harga bahan bakar melonjak, sementara aktivitas pelayaran menurun drastis akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan.
Tekanan Global dan Ultimatum AS
Bagi Washington, membuka kembali Selat Hormuz kini bukan sekadar kepentingan militer, tetapi juga kebutuhan ekonomi dan politik. Presiden Donald Trump bahkan mengeluarkan ultimatum agar Iran membuka jalur tersebut dalam waktu 48 jam.
Ancaman tersebut dibalas keras oleh Iran. Militer Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur vital mereka akan dibalas dengan serangan ke fasilitas energi dan teknologi yang terkait dengan AS di kawasan Timur Tengah.









