Siti Fadilah dan Dr Tifa Kuliti Efektivitas Vaksin Sinovac, Divaksin dan Tidak Sama Saja

oleh -109 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dan pakar epidemiologi dr Tifauzia Tyassuma kompak menguliti efektivitas vaksin vaksin Sinovac.

Dokter cantik yang akrab disapa dr Tifa ini mentatakan ada tiga hal yang harus diperhatikan sebelum memilih dan menggunakan vaksin.

“Yang pertama tentu saja soal keamanan atau safety, kemudian yang kedua adalah efektivitas, kemudian yang ketiga adalah imunogenitas,” ucap dr Tifa di kanal YouTube Siti Fadilah Supari Channel.

Imunogenitas, kata dr Tifa, artinya bagaimana vaksin ini berhasil membangun anti bodi yang diperlukan untuk mencegah infeksi virus.

Link Banner

Tiga hal ini, menurut dr Tifa, kurang disosialisasikan oleh pemerintah kepada masyarakat.

Padahal, kata dia, safety, efektivitas dan imunogenitas hanya bisa didapatkan dari uji klinis fase tiga.

Dikatakan dr Tifa, vaksin yang digunakan di Indonesia, termasuk vaksin Sinovac, belum selesai uji klinis fase tiga.

“Seharusnya nih kalau kita mau ambil vaksin untuk kita pilih, kita harus memilih vaksin mana yang sudah selesai uji klinis fase tiganya,” ucapnya.

Baca Juga  Pieces of a Woman: Luka Yang Dalam Seorang Ibu

“Dan pemerintah kalau mau belanja juga harus belanja vaksin yang sudah selesai fase tiganya,” sambungnya.

Dr Tifa menegaskan dirinya bukan menolak vaksin. Tapi panduannya tetap harus diikuti sebelum menggunakan vaksin.

Dia mengaku senang sekali dengan adanya vaksin karena hal itu merupakan salah satu stratgei untuk mempercepat pelandaian pandemi Covid-19.

“Tetapi dalam memilih vaksin, seharusnya diketahui hasil uji klinis fase tiga,” ucapnya.

Kalau pun belum ada hasil uji klinis fase tiga, maka bisa meminjam uji klinis fase tiga negara lain dengan vaksin yang sama.

“Untuk diketahui vaksin pertama yang dibeli pemerintah, yaitu Sinovac, itu kan belum selesai uji klinis fase tiganya,” ucapnya.

Artinya, kalau mau pakai vaksin Sinovac, maka harus meminjam uji klinis yang sudah selesai di negara lain.

Sampel Sinovac Tak Representatif

Dr Tifauzia Tyassuma alis dr Tifa

Dr Tifa juga menyoroti uji klinis vaksin Sinonac di Indonesia yang jumlah sampelnya sangat kecil, hanya 1.620 orang.

Itu pun mayoritas sampelnya hanya ada di satu provinsi, yakni Jawa Barat. Padahal jumlah penduduk Indonesia 270 juta jiwa lebih.

Baca Juga  Jelang HUT Ke-18, Danrem 151/Binaiya Pimpin Aksi Bersih Pantai dan Laut

Di negara lain, kata dia, sampel uji klinis cukup representatif dan menyebar ke semua provinsi.

Di Turki misalnya, jumlah sampelnya sebanyak 10.000 lebih. Padahal jumlah penduduknya hanya 82 juta jiwa, jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia.

Di Brazil, sampel uji klinis vaksin Sinovac sebanyak 13.000 ribu dengan jumlah penduduk 211 juta jiwa lebih.

“Di Brzail sebanyak 13.000 relawan uji klinis. Itu cukup representatif. Dan efektivitasnya hanya 54 persen,” kata dr Tifa.

“Artinya, akan ada orang sebanyak 50,4 persen yang terbentuk anti bodinya, ada yang tidak,” tambahnya.

Rendahnya efektivitas vaksin Sinovac dikritisi mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Dengan rendahnya efektivitas Sinovac, maka orang divaksin atau tidak hasilnya sama saja, bisa juga tidak.

“Kan ada batasnya kapan disebut efektif, yaitu kalau efektivitasnya di atas 50 persen. Tapi kalau di atasnya cuma 53 atau 54, berarti podo wae. Divaksin sama gak divaksin sama saja fifty-fifty bisa kena,” cetus Siti Fadilah,” kata Siti Fadilah.

Baca Juga  Mengapa Banyak Ulama yang Meninggal? Ini Penjelasan Pakar

Kelinci Percobaan

Dr Tifauzia Tyassuma alias dr Tifa mengatakan, semua vaksin Covid-19 yang digunakan Indonesia tercatat di WHO sebagai fase 4.

“Di WHO itu, dalam listingnya itu ditulis masuk di dalam fase 4. Nah harus tahu ini apa maksudnya fase 4,” ucap dr Tifa.

Siti Fadilah lantas menjawab bahwa yang masuk fase 4 itu adalah orang yang sudah divaksin.

“Kita-kita ini, yang disuntik masuk fase 4. Makanya perlu sekali pencatatan bahwa KTP-nya mana, ininya mana, karena nanti diikutin, apakah ada site effeck (efek samping), apakah terus mati, matinya berapa, yang catat berapa, waduh,” cetus Siti Fadilah.

“Itulah yang namanya human challenge atau human experimental,” kata dr Tifa menimpali ucapan Siti Fadilah.

Selengkapnya simak perbincangan Siti Fadilah Supari dengan dr Tifa berikut ini:

https://youtu.be/FnSC322Z7_E

(red/pojoksatu)