Soal sepele, ibu kandung dibantai anak kandung

oleh -156 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon :Menghilang selang 3 minggu, warga Negeri Tuhaha, B.A (63) akhirnya ditemukan sudah tak bernyawa di dalam hutan di dalam hutan, Dusun Tuha Anakotta, Negeri  Tuhaha, Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah.

Usut punya usut ternyata BA dibantai oleh anak kandungnya sendiri, Yance Anakotta/YA (37) yang sudah mengalami gangguan kejiwaan sejak beberapa tahun terakhir.

Pihak kepolisian saat mengambil mayat dari dalam hutan (dok)

Mirisnya lagi, BA dibantai YA hanya dikarenakan sepatu dan baju YA diambil oleh BA dan tak dikembalikan.

Hal ini dibenarkan Kasat Reskrim Polres P. Ambon dan Pp. Lease, AKP Teddi,SH,S.IK, saat berhasil dikonfirmasi wartawan, di Ambon, Kamis (5/4).

”Pelaku nekat menghabisi nyawa ibu kandungnya itu lantaran tersinggung dengan perbuatan korban yang mengambil sepatu dan baju  pelaku. Pelaku yang bermental gangguan jiwa, kemudian meminta baju dan sepatunya agar dikembalikan oleh korban namun korban yang tidak menggubris permintaan pelaku, membuat pelaku akhirnya marah dan mengambil sepotong kayu kemudian memukul korban sebanyak 10 kali hingga korban meninggal dunia. Usai memukul korban hingga meninggal dunia, pelaku kemudian menutup jenasah korban dengan timbunan kayu dan sekam di dalam Hutan Dusun Tuha Anakotta, Negeri Tuhaha, kurang lebih tiga minggu lama,” ujarnya.

Baca Juga  Cipkon, pemuda Ruhumoni gandeng Babinsa Haruku musnahkan miras

Sebelumnya, akunya, ketidakhadiran ibu kandungnya dalam kurun waktu 3 minggu sejak Sabtu (7/3), menyebabkan salah satu anak korban, Marlin Anakotta (56), mencari tahu dimanakah keberadaan BA.

Mayat yang sudah membusuk (dok)

Tak puas karena belum menemukan ibu kandungnya, MA kemudian mengajak salah satu saudara kandungnya, Olivia Anakotta, untuk melaporkan kehilangan ini kepada Raja Negeri Tuhaha, Wellem Lawalata, serta meminta bantuan yang bersangkutan untuk mencari keberadaan ibu kandung mereka.

”Jenasah korban baru ditemukan pada Sabtu (31/3), setelah pelaku mengakui telah membunuh ibu kandung mereka dan meninggalkan jenasa korban di dalam hutan Dusun Tuha Anakotta kepada kedua kakak perempuannya, Marlin Anakkota  dan Olivia Anakotta yang saat itu sedang bersama di rumah Raja Negeri Tuhaha,” jelasnya.

Baca Juga  Utuwaly resmi digantikan Lilimwelat

Ketiganya, jelasnya, kemudian melaporkan hal itu kepada anggota Bhabinkamtibmas Desa Tuhaha, usai mendengarkan pengakuan YA tadi.

Mendengar itu, tegasnya, Bhabinkamtibmas pun akhirnya menghubungi Polsek Saparua agar segera mengamankan YA yang saat itu sedang berada di rumah kediaman Raja Negeri Tuhaha, Wellem Lawalata.

”Kepada Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Saparua, pelaku mengakui telah membunuh ibu kandungnya sendiri di dalam hutan Dusun Tuha Anakotta. Pelaku juga membawa Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Saparua bersama dengan Raja Negeri Tuhaha dan masyarakat ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), di mana pelaku menutup jenasa korban dengan kayu dan sekam didalam hutan Dusun Tuha Anakotta,” jelasnya.

Jenasah BA sendiri, terangnya, akhirnya dapat dievakukasi anggota Bhabinkamtibmas Polsek Saparua yang dibantu masyarakat Negeri Tuhaha di TKP, serta dibawa ke Rumah Sakit Umum Saparua untuk divisum.

Baca Juga  Krisis Etika Bangsa di Tengah Pandemi

”Pelaku Yance Anakotta yang diamankan oleh Anggota Bhabinkamtibmas Saparua, pernah mengalami ganguan kejiwaan dan pernah dirawat di Rumah Sakit Penderita Kejiwaan (RSPKJ), yang berada di Desa Nania, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, kurang lebih dua tahun, sejak 2015 hingga 2016. Usai mengalami penyebuhan kejiwaannya, pelaku akhirnya dikeluarkan oleh pihak  RSPKJ Nania tahun 2016, dengan proses penyembuhan tergantung pada obat penenang yang rutin dikonsumsi oleh pelaku,” timpalnya.

Sementara pelaku sendiri, tambahnya, kemudian dipemeriksa oleh Penyidik Reskrim Polsek Saparua ke Penyidik Satreskrim Polres P. Ambon dan Pp. Lease, Rabu (4/4).

”Pelaku telah diserahkan oleh Penyidik Reskrim Polsek Saparua ke Penyidik Satreskrim Polres Ambon dan resmi ditahan di rumah tahanan Polres Ambon guna dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Pelaku disangkakan dengan pasal 338 dan pasal 340 KUH Pidana dengan ancaman hukuman minimal 15 tahun penjara, dan maksimal 20 tahun penjara atau penjara seumur hidup,” pungkasnya. (keket)