Ketika Rasulullah SAW hijrah dari Makkah menuju Madinah, suasana penuh harap menyelimuti kaum Anshar yang telah lama menantikan kedatangan beliau. Sesampainya di gerbang kota, para penduduk, terutama dari kalangan hartawan berlomba-lomba menawarkan rumah mereka agar Rasulullah mau singgah untuk beristirahat.
Diceritakan dalam buku Kisah Orang-orang Sabar tulisan Nasiruddin, Nabi SAW tidak memilih salah satu dari mereka. Beliau bersabda dengan penuh kebijaksanaan, “Biarkanlah unta ini berjalan sesuai perintah Allah. Ia akan berhenti di tempat yang telah ditentukan-Nya.”
Maka, unta tersebut melangkah perlahan melewati rumah-rumah penduduk Madinah. Setiap orang yang dilewati penuh dengan harapan, berbisik dalam hati, “Semoga rumahku menjadi tempat persinggahan beliau.”
Akhirnya, unta itu berhenti tepat di depan rumah seorang sahabat sederhana, Abu Ayyub Al-Anshari ra. Unta itu bahkan merebahkan tubuhnya dan enggan bangkit kembali. Upaya untuk membangunkannya tidak berhasil. Saat itulah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, “Wahai Muhammad, singgahlah di rumah ini, karena penghuninya adalah orang yang penuh ketawadhuan.”
Menariknya, ketika warga Madinah sibuk menghias rumah mereka dengan pernak-pernik indah agar dipilih Rasulullah SAW, Abu Ayyub justru merasa kecil hati. Dalam benaknya ia berkata, “Aku hanyalah orang miskin, mana mungkin mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah Rasulullah.” Namun, takdir berkata lain. Justru karena ketulusan dan kerendahan hatinya, Allah memilih rumahnya sebagai tempat tinggal Rasulullah SAW di Madinah.










