Sekarang aku sering mengumpulkan tiket nonton bioskop bersama teman-temanku. Tak ada yang wanita. Aku pria penakut. Mohon jangan tanya aku mau nikah kapan ya, Bu! Nanti aku kirim kabar setelah siap. Tiket itu sengaja aku pamerkan ke media sosial. Aku begitu agar tak dicap sebagai manusia kamar yang setiap malam terus mengunyah buku. Ini jauh berbeda sekali dengan dulu. Ketika tawa bahagia menjadi satu. Ketika aku telah berhasil mengumpulkan bungkus permen karet hanya untuk menderetkan alfabet agar menjadi sebuah nama merek permen itu. Aku telah berhasil mengumpulkan 4 huruf. Y-O-S-A. Sekali lagi, coba lagi, lalu coba lagi untuk menemukan alfabet terakhir demi membentuk kata Y-O-S-A-N.
“Bu, huruf N susah dapatnya. Adek sudah beli tiap hari. Kalau huruf N ketemu, nanti bisa dapat sepeda lho, Bu.”
Engkau hanya membalas dengan gelengan. Sebuah politik perdagangan yang aku belum paham saat itu. Sekarang, saat jagoan kembarku sudah berumur 4 tahun, aku jadi paham arti gelengan itu. Batas kesabaran yang sering ditahan oleh seorang ibu. Membeli snack mahal yang hanya berisi angin. Jumpalitan di kasur dan memporak-porandakan bantal dan seprai. Mandi air hujan seharian. Mencoba minggat dari rumah saat dimarahi lalu kembali karena lapar. Juga dengan uang receh di bawah kasur kembalian beli sayur, aku yang telah mengambilnya, Bu. Aku dipaksa mencuri karena kawanku terus mengajakku adu kelomang. Tuhan pasti telah mencatat semuanya. Maafkan aku, Bu!









