Surat Cinta dari Venesia

oleh -269 views

Kini saat melihat anak-anakku, aku seperti kembali ke masa dahulu. Seolah berkaca pada masa lalu. “Jika ingin dekat dengan mereka, sejenak masuki dunianya. Lupakan tugas-tugas kantor dan obrolan dengan teman Facebook. Jauhkan ponsel darimu.” Itulah ucapan yang sering dilontarkan istriku. Ya, setidaknya aku sedikit belajar, dulu aku juga seperti mereka, bukankah orangtua juga tetap anak dari orangtuanya yang dulu. Mereka belajar dan bermain dari tingkah laku dari kedua orangtuanya. Sekarang aku paham.

Satu hal yang pernah diucapkan istriku, laki-laki memang tak pernah bisa dewasa. Hipotesis dari mana itu aku tak tahu. Pernah satu hari kami pulang saat magrib menjemput dengan tubuh lusuh dan bau amis. Kedua tangan memegang tiga joran pancing dan kantung kresek berisi lima ikan betik dengan ukuran sedang. Wajah anak-anakku polos memeluk paha menatap istriku dengan muka memelas dan mata sebening kristal. Jauh berbeda dengan air muka ayahnya yang sedikit acuh dan malas berdebat.

Baca Juga  Fans Murka, Petisi Jual Mbappe Tembus 44 Juta Tanda Tangan

“Bukan apa-apa. Bikin khawatir. Kalau pergi bilang mau ke mana. Jangan begini lagi, pulang malam. Sudah mandi sana, terus makan!”

Kami memilih diam. Menjawab adalah ajakan perang. Tetapi kami baru sadar jika dari balik pintu ia mengamati tingkah laku kami bertiga di dalam kamar mandi. Saat busa-busa beterbangan dan dalam ketelanjangan serta tawa cekikikan itu, ia dengan sengaja perlahan membuka pintu. Aku melihatnya, seperti tadi. Gelengan kepala dan kesabaran yang ditahan. Kedua anakkku buru-buru berebut merangkul kepalaku yang berendam dalam bathtub. Wajah ketakutan seperti melihat monster karena kami sudah kelewat berisik. Cukup lama kami terdiam, sampai suara itu melegakan hati.

No More Posts Available.

No more pages to load.