Tak Pun Lucky, PDIP Maluku Tak Lagi Lucky – Lalu Mau Apa Lagi –

oleh -1,276 views

Oleh: Bitto Temmar, Politisi Senior

MEMPERSOALKAN isu pergantian Ketua DPRD Maluku hingga memasuki area polemik sekali pun, menurut saya, tidak banyak gunanya. Hanya menguras energi tanpa kontribusi apa pun untuk mendongkrak perbaikan performa mau pun citra DPRD Maluku. Problemnya sangat kompleks.

Sistem rekrutmen politik parpol yang dilucuti dari daerah-daerah dan di push up ke DPP di hampir semua partai, kemudian melahirkan “politisi benalu” di daerah-daerah. Kecuali Partai Golkar dan sejumlah partai tengah atau gurem yang karena tidak ada “pemilik” sehingga para kader bisa berkembang menjadi politisi lokal yang otonom, partai-partai yang ada pemiliknya, semua serba dikontrol dari Jakarta. Lahirlah apa yang saya sebut sebagai politisi benalu. Politisi seperti ini yang penting berkenan kepada pemilik partai.

Jadi dalam case isu pergantian Ketua DPRD Maluku, sebenarnya tidak menarik. Lucky didepak dan diganti dengan Benhur misalnya, tak akan berdampak banyak bagi perbaikan performa kepemimpinan DPRD.

Bahkan jika dikembalikan sekali pun kepada Edwin Huwae, situasinya tetap sama. Mengapa? Karena potensialitas terbaik mereka sudah tergerus akibat atmosfir politik internal yang sudah lama membusuk karena kontrol dari atas yang super ketat. Apalagi yang menggantikan itu misalnya Orno dan seterusnya?. Disinilah letak dilema internal partai tersebut. Lucky dipertahankan, terjerat masalah akibat kebodohan. Diganti dengan Edwin, sudah terlanjur dipermalukan dengan demosi politik yang pernah dialaminya. Diberikan kepada Benhur, kemarin terjerat dengan masalah saat pemilu. By pas ke Orno atau yang lain, makin pelik masalahnya.

Jadi menurut saya, problem Lucky dan isu pergantian ketua DPRD tidak harus merangsang polemik. Biarkan saja PDI P menyelesaikan masalah tersebut. Yang ingin diingatkan kepada PDI P adalah selekasnya transformasikan internal jika tidak ingin ditinggalkan rakyat.

Survei belakangan mengindikasikan begitu kuat bahwa ketidakpuasan publik terhadap partai ini berbanding lurus dengan tren menurun dukungan rakyat. Bukan tidak mungkin kehadiran partai baru semisal Partai Gelora akan ikut menggerus dukungan partai-partai besar termasuk PDI Perjuangan.

Saya pikir prospek PDI P di Maluku tidak lagi secerah seperti waktu-waktu lalu. Bukan tidak mungkin di Maluku PDI P terkena karma sehingga menjadi partai gurem.

Sebagai praktisi non partisan, saya melihat sejumlah faktor pemungkin partai ini menjadi gurem lagi di Maluku.

Pertama, dalam dua dasawarsa terakhir, DPP partai ini tergoda dengan sentralisasi kekuasaan. Nyaris kebebasan lokal dipreteli secara sistematis sehingga hanya residu saja yang ada di daerah. Implikasi negatifnya antara lain muncul mentalitas menerabas bahkan mentalitas benalu yang menggerogoti elan perjuangan awal partai ini.

Kedua, historitas partai ini dikebiri karena obsesi untuk selekas-lekasnya mengakhiri eksistensi “eks unsur” menuju keutuhan partai; padahal secara sosiologis, keberlanjutan spirit eks unsur itu yang suka tidak suka menjadi kekuatan dasar partai ini. Case Maluku, eks unsur Parkindo justru yang menghidupi partai ini mulai dari masa-masa sulit hingga era baru PDI Perjuangan. Sekarang, tak lagi tersisa enclove politik kontribusi eks unsur yang satu ini. Dampaknya, terlihat begitu kasat mata. Pentolan partai ini sudah sangat lama menjauhi orbitasi partai.

Ketiga, akhirnya performa pemerintahan Presiden Jokowi saja yang menjadi tempat bersembunyi untuk menghilangkan jejak kegagalan partai ini di Maluku. Buruknya kinerja para petugas partai ini baik eksekutif mau pun legislatif belakangan menjadi bahan pergunjingan di mana-mana di seluruh Maluku.

Keempat, obsesi menjadi besar secara terburu-buru tanpa disadari melumpuhkan parameter idelogis partai ini dalam proses rekrutmen dan promosi politik partai ini. Level-level kekaderan — pemula, madya dan utama — yang berbasis ideologis dibongkar atau didekonstruksi sedemkian rupa sehingga membuka ruang bebas bagi para oportunis dan hedonian merangsek masuk ke dalam pusaran kekuasaan partai ini. Mereka ini yang sedang menggembosi partai ini dari dalam. Praktik nepotisme begitu kasat mata dipertontonkan dihadapan mereka yang bercucur air mata mempertahankan eksistensi partai ini di masa-masa sulit.

Singkat cerita, sebenarnya PDI P di Maluku tak lebih baik dari residu yang mengenaskan. Jadi, ganti Lucky dengan siapa pun tak akan menyelesaikan kompleksitas problem partai ini. Sebaliknya, mempertahankan Lucky pun tak akan memperbaiki apa pun. Lalu mau apa lagi. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.