Tan melihat perkembangan PKI sangat progresif-revolusioner. Bayangkan sebuah ide baru, di tengah rakyat yang terjajah dan sebagian besar buta huruf, mayoritas Islam, bisa menggerakan politik revolusioner dalam tempo yang tak lebih dari 10 tahun untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Belanda.Tanpa mengurangi peran sejarah Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dan perserikatan kebangsaan lain di waktu itu, tetap saja tertinggal beberapa langkah dari PKI. Setidaknya dalam aksi-aksi real politik, seperti pemogokan, demonstrasi acak maupun yang terorganisir, boikot, atau bahkan propaganda serta agitasi yang terbuka melawan Belanda.
Bagian menarik lainnya adalah strategi PKI berinteraksi dari dalam terutama di tubuh Sarekat Islam untuk bermitra.Taktik ini membuat PKI kian mengakar dan bahkan mampu memperoleh dukungan signifikan dari kalangan Islam multi corak. Bukan hanya Islam Abangan dan Sekuler, tetapi juga Islam Religius, seperti di Solo melalui Haji Misbach, di Banten, di Semarang, Palembang, Minangkabau via Datuk Batuah, dan bahkan meluas hingga ke Ternate. PKI menempatkan Islam sebagai sebagai sekutu dan mitra aliansi strategis.Tan Malaka juga terkesan sangat membela Islam. Menurutnya, agenda terpenting PKI merujuk pada pemahaman Islam yakni membebaskan alam pikir masyarakat Indonesia yang masih terbelenggu oleh mistisme, feodalisme, dan perbudakan. Bisa dikatakan,hubungan PKI dan Islam saat itu bersifat dialektis dan belum tercemar oleh noda sejarah apapun.




