Tan Malaka dan Ternate: Honoring The Past, Inspiring The Future

oleh -605 views

Dalam pidato saat Kongres Komunis Internasional IV di Moscow tanggal 12 November 1922, Tan tanpa sungkan mengajak komunis untuk bekerja sama dengan apa yang Ia sebut Pan Islamisme. Dihadapan Lenin, Tan secara terbuka mengkritik tesis Karl Marx yang menempatkan agama sebagai candu masyarakat yang harus dilawan. Menurutnya, gerakan komunis tidak akan berhasil mengusir kolonialisme (Belanda di Indonesia) jika tidak bekerja sama dengan Pan Islamisme. Karena pandangan inilah, Tan kemudian dikucilkan karena dianggap berseberangan dengan ideologi komunis.Tan bahkan dikeluarkan dari PKI setelah dirinya “difitnah” bertanggungjawab atas kegagalan pemberontakan Silungkang 1926 – sesuatu yang tak pernah direstuinya saat Ia bersembunyi di Singapura.

Baca Juga  SAR Hentikan Sementara Pencarian Pendaki di Gunung Dukono, Polisi Selidiki Dugaan Kelalaian Pemandu

Bagi saya inilah pintu masuk korelasi Tan dan Ternate.PKI tumbuh dan besar di Jawa dan memiliki sekitar 13 ribu anggota, tetapi mereka butuh cabang yang kuat di daerah terutama yang berbasis Islam.Tujuannya agar gerakan melawan Belanda mendapat dukungan luas dan tak hanya terjadi di Jawa. Sebagai seorang intelektual, Tan tentu punya referensi sejarah yang lebih dari cukup tentang kegemilangan Sultan Babullah di Ternate dan Sultan Nuku di Tidore. Ia kagum dengan heroisme para Sultan di tanah Maluku bagian Utara. Bahkan pemberontakan Banau tahun 1914 yang berujung pada matinya Agerbeek, kepala perwakilan Belanda di Jailolo, disebut dalam literatur gerakan PKI sebagai pemberontakan petani yang ingin bebas dari kolonialisme.