Proposal tersebut diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah mediator dari Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat menyelesaikan peta jalan untuk tahap berikutnya dari gencatan senjata.
Dalam rancangan tersebut, persenjataan berat, fasilitas produksi militer, gudang senjata hingga infrastruktur terowongan akan diinventarisasi dan disimpan di bawah pengawasan otoritas Palestina. Pada saat yang sama, pasukan Israel direncanakan melakukan penarikan secara bertahap dari Gaza.
Namun, hingga kini Israel belum secara terbuka menyatakan dukungan terhadap proposal tersebut.
Bagi Hamas, persoalan senjata tidak bisa dipisahkan dari kewajiban Israel dalam keseluruhan kesepakatan. Karena itu, setiap pembahasan mengenai senjata baru dapat berjalan apabila Israel terlebih dahulu memenuhi komitmennya.
Hamas: Bukan Penyerahan Senjata
Qaddoumi menolak anggapan bahwa kesepakatan tersebut merupakan langkah untuk melucuti Hamas dan mengakhiri perlawanan Palestina.
“Ini bukan penyerahan senjata. Ini bukan langkah terisolasi. Ini bukan penarikan diri dari, atau kemunduran dari, konsep perlawanan,” ujarnya.
Menurut dia, perlawanan merupakan hak bangsa yang berada di bawah pendudukan. Ia menyebut rakyat Palestina telah hidup dalam kondisi pendudukan selama puluhan tahun dan memiliki hak untuk mempertahankan diri, termasuk melalui perlawanan bersenjata.









