“Sepertinya, tidak. Di pertemukan belum tentu untuk kembali disatukan. Bisa jadi ini hanyalah jalan untuk mengobati rindu yang selalu terabaikan,” jelas gadis itu, ia merasa bodoh dengan dirinya sendiri yang terkadang, mengeluh, dan ingin bertemu.
Lelaki itu terdiam, merasakan afeksi yang menjalar pada hati. Apakah dikarenakan sebuah tumpukan rindu yang sudah menggunung, sehingga tidak bisa ditampung dan berakhirlah dengan pertemuan yang akhirnya berujung.
“Begitu ya? Benar-benar tidak ada kesempatan sekali lagi?” tanya pria itu, yang sudah tidak kuat lagi merasakan kekosongan di hati. Debaran jantung lebih terasa, takut, takut rasanya jika tidak bisa kembali bersama.
“Tidak tahu, dan itu belum pasti. Tapi, aku rasa kamu masih belum sepenuhnya suka dengan hujan,” kata gadis itu diiringi kekehan.
“Na, saya minta maaf. Tapi apakah saya harus suka hujan dahulu, lalu menyukai kamu?”
Gadis itu menggeleng, “tidak, bukan itu maksudku. Lupakan saja,”
“Jadi, kita tidak bisa kembali?” kata lelaki itu.
Gadis itu pun mengukir senyum, “aku bahagia lihat kamu seperti ini. Tapi kalau aku ingat masa lalu, kadang sedih aja ingat tentang masa lalu kita yang membodohkan dan terlalu saling menyalahkan,”
“Na..”
“Udah, Havis. Gak ada yang perlu diperbaiki lagi. Aku bahagia bisa ketemu sama kamu di sini dan… Aku juga bahagia kamu sudah bisa sukses seperti ini,”











