Bulan Agustus tahun ini, “Seribu Buku Untuk Anak Pulau”, sebuah gerakan sederhana yang dimulai dengan menghimpun buku-buku bekas dari para alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, genap berusia tiga tahun.
“Berawal dari webinar “Pulang Membangun Kampoeng” pada 5 Agustus 2020 dalam rangka Dies Natalis Ke-60 almamater tercinta, kami diminta berbagi kisah pendampingan masyarakat desa di Kota Tual. Selepas webinar, banyak yang secara pribadi bertanya, apa yang bisa dilakukan untuk mendukung kegiatan-kegiatan kami pada kondisi pandemi ini? Yang terlintas di benak saat itu adalah buku,” ujar inisiator Gerakan Seribu Buku untuk Anak Pulau Rofiko Rahayu Kabalmay, Jumat (18/8/2023).
Rofiko mengatakan, sekolah tatap muka yang dihentikan sementara waktu, ditambah dengan keterbatasan tenaga pengajar dan akses terhadap bahan ajar akan menjadi sebuah bom waktu bagi pendidikan anak-anak pulau.
“Sebagai anak daerah yang pernah merasakan belajar di salah satu tempat terbaik di negeri ini, kami selalu punya keinginan agar semua anak pulau dapat mengakses pendidikan secara baik. Dukungan berupa penyediaan buku pelajaran dan bahan bacaan lainnya, dalam hal ini sangat dibutuhkan,” tukasnya.

Jebolan Fakultas Psikologi UI Tahun 2002 ini, menerangkan, Kota Tual memiliki lima kecamatan, yaitu Kecamatan Pulau Dullah Selatan, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kecamatan Tayando Tam, Kecamatan Pulau-Pulau Kur dan Kecamatan Kur Selatan, dengan sebagian besar dari wilayah Kota Tual merupakan wilayah perairan atau lautan.









